Showing posts with label Geografi. Show all posts
Showing posts with label Geografi. Show all posts

Thursday, November 16, 2017

Ekofisologi : Pengertian, Proses, dan Contoh (Fotosintesis, Respirasi, Transpirasi)

Ekofisologi : Pengertian, Proses, dan Contoh (Fotosintesis, Respirasi, Transpirasi)

Ekofisologi

Pengetian Ekofisiologi

Ekofisiologi adalah ilmu tentang respon fisiologis tumbuhan terhadap lingkungannya (ekologi). Tujuan dari ekofisiologi adalah berguna untuk pengontrolan pertumbuhan, reproduksi, kemampuan bertahan hidup dari tumbuhan tersebut, dan penyebaran geografinya.
Dalam ekofisiologi, terdapat 3 (tiga) pilar utama, dimana Semua pilar utama ini saling berinteraksi, yakni :

  1. Tanah (Edafik)
  2. Tumbuhan (Biotik)
  3. Lingkungan (Abiotik)


Proses Fisiologi

Proses fisiologi terdiri dari berbagai macam, yakni:

Fotosintesis

Proses Ekofisologi contohnya Fotosintesis

Fotosintesis memiliki faktor faktor seperti : klorofil, stomata, daun, karbohidrat, cahaya, suhu, CO2, pohon, air, dan unsur hara.
Fotosintesis terdapat beberapa jenis, yakni : C3 (contohnya tanaman kehutanan) dan C4 (contohnya tanaman pertanian).

Metabolisme Nitrogen

Metabolisme nitrogen adalah proses mengubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik (contohnya protein dan protoplasma).

Respirasi

Respirasi memiliki beberapa faktor faktor, yakni : umur dari fisiologi jaringan, substrat, ransangan adanya luka, zat kimia tertentu, cahaya, air tanah, suhu, CO2 dan O2, dan nutrisi
Aktivitas dari respirasi yakni : dari kambium menuju ujung akar, lalu kebatang, dan selanjutnya ke dorman (proses dari yang tertinggi).

Transpirasi

Transpirasi adalah proses air menguap pada siang hari melalui stomata, kultikula, lentisel, yang berguna untuk menurunkan suhu permukaan tanaman tersebut.

Gutasi

Gutasi adalah proses keluarnya air garam gula cair pada malam hari yang melalui stomata dan hydatoda.

Asimilasi

Asimilasi adalah proses perubahan makanan menjadi protoplasma baru, dinding sel, dan bahan bahan lainnya.

Penimbunan Garam

Penimbunan garam adalah proses pengumpulan garam di sel sel jaringan yang disebabkan mekanisme transport aktif.

Pengangkutan

Pengangkutan adalah proses perpindahan air mineral, makanan, dan hormon hormon dari tempat satu ke tempat satu lainnya.

Penyerapan

Penyerapan adalah proses menyerap air mineral dari tanah dan menyerap O2 dan CO2 dari udara.

Reproduksi Vegetatif

Reproduksi vegetatif adalah reproduksi dengan menggunakan bagian vegetatif.

Hormon

Hormon adalah pengontrolan seluruh daur hidup tumbuhan tersebut (contohnya perkecambahan, pembungaan, dll.).

Tumbuhan bedasarkan Transpirasi dalam Ekofisiologi

Tumbuhan bedasarkan transpirasi dalam ekofisiologi dibagi dalam beberapa macam, yakni:

Kuat

Kuat dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar 2000mm per tahun. Contohnya adalah sengon, lamtoro, bambu, trembesi, otok otok. Dimana contoh tipe vegetasinya berupa belukar.

Sedang

Sedang dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar 1000 hingga 2000mm per tahun. Contohnya jati, karet, alang alang, nangka, kopi. Dimana contoh tipe vegatasinya berupa hutan dataran rendah dengan transpirasi sebesar 1200mm per tahun.

Kecil

Kecil dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar kurang dari 1000mm per tahun. Contohnya teh, kelapa, beringin, damar, cemara udang. Dimana contoh tipe vegetasinya berupa hutan pegunungan dengan transpirasi sebesar 860mm per tahun.

Kondisi Fisiologi

Kondisi fisiologi terdiri atas:

  1. Jumlah klorofil, karbohidrat, dan senyawa nitrogen
  2. Tekanan osmosis
  3. Turgiditas sel
  4. Protoplasma


Contoh Ekofisiologi

Contoh contoh ekofisiologi terdapat:

  • Skarifikasi : proses ekologinya berupa perlakuan khemis, fisik, dan mekanis; sementara proses fisiologinya berupa dormansi balik
  • Pemupukan : proses ekologinya berupa nutrisi hara; sementara proses fisiologinya berupa translokasi

Saturday, October 14, 2017

Ciri-Ciri dan Klasifikasi Hutan : Tempat Asal, Keaslian, Komposisi, Umur, dan Seluruh Dunia

Ciri-Ciri dan Klasifikasi Hutan : Tempat Asal, Keaslian, Komposisi, Umur, dan Seluruh Dunia

Ciri Ciri dan Klasifikasi Hutan


Tempat Asal

Bedasarkan tempat asalnya, hutan dibagi menjadi :

High Forest

High forest merupakan hutan yang berasal dari pembiakan biji

Coppice Forest

Coppice forest merupakan hutan yang berasal dari trubusan atau perkembangan vegetatif

Middle Forest

Middle forest merupakan hutan yang berasal dari kombinasi keduanya (High forest dan Coppice forest)

Keaslian Hutan

Bedasarkan keaslian hutan, hutan dibagi menjadi:

Hutan Primer

Memiliki ciri ciri pohon yang besar, berumur tua, dan tegakan yang rapat

Hutan Sekunder

Memiliki ciri ciri pohon yang muda dan tegakan yang kecil dan muda ; kadang terjadi bencana alam

Komposisi Hutan


Bedasarkan komposisi hutan, hutan dibagi menjadi:

Hutan Sejenis / Murni / Monokultur

Memiliki ciri ciri iklim yang sebegitu rupa, kadang terjadi bencana, spesies yang agresif, dan bersifat buatan
Keuntungannya berupa:

  1. Memiliki spesies paling berharga
  2. Pengelolaan lebih sederhana
  3. Permudaan lebih mudah
  4. Biaya pemungutan rendah

Kekurangannya berupa:

  1. Kurangnya dalam mengantisipasi perubahan pasar
  2. Kurangnya nilai estetis dan serbaguna

Hutan Campur

Memiliki ciri ciri banyak spesiesnya
Keuntunganya berupa:

  1. Ketahanan dalam gangguan angin
  2. Siklus hara
  3. Iklim mikro
  4. Pemanfaatan ruang tajuk
  5. Lebih sehat

Perbedaan antara kedua tipe hutan tersebut adalah :

  1. Pemanfaatan ruang
  2. Kebutuhan unsur hara
  3. Pembentukan tanah
  4. Hama dan penyakit
  5. Angin
  6. Kebakaran hutan


Umur Hutan

Bedasarkan umur hutan, hutan dibagi menjadi:

Hutan Seumur

Memiliki ciri ciri kanopi datar, bahaya angin besar, pohon kecil tertekan, regenerasi pendek, hama dan penyakit banyak, akumulasi tebangan banyak

Hutan Tidak Seumur

Memiliki ciri ciri kanopi beragam, bahaya angin kecil, pohon kecil berguna, regenerasi cepat, hama dan penyakit sedikit, akumulasi tebangan sedikit
Adapun tipe bedasarkan umur hutan yang lain yakni:

  • Hutan alam klimaks
  • Hutan tanaman
  • Hutan permudaan alam
  • Hutan bertingkat
  • Hutan tak teratur
  • Hutan seumur berkelompok
  • Hutan bentuk cadangan


Seluruh Dunia


Bedasarkan hutan di seluruh dunia, hutan dibagi menjadi:

Tropika

Terdiri atas : hutan ber humida, gugur daun, musim, sabana

Sub-tropika

Temperate

Terdiri atas : hutan sedang, dingin

Kutub

Terdiri atas : hutan boreal, sub kutub, dan kutub

Wednesday, November 30, 2016

Permasalahan Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Air

Permasalahan Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Air

Masalah Kuantitas Air


  1. Ketersediaan air bervariasi menurut iklim
  2. Berubahnya fungsi daerah resapan menjadi daerah pemukiman dan industri
  3. Terganggunya fungsi kawasan sebagai penyimpan air (rawa, danau,situ, bendungan/dam)
  4. Terganggunya fungsi hutan sebagai kawasan lindung dan resapan 
  5. Degradasi lahan akibat erosi dan longsor
  6. Kesalahan dalam pengelolaan sempadan sungai dan lingkungan sungai

LINGKUNGAN SUNGAI ADALAH ASET


  • ASET SUMBER AIR-SEDIMENT
  • ASET MORPHOLOGY
  • ASET LANDSEKAP
  • ASET EKOLOGI
  • ASET SOSIAL-BUDAYA
  • ASET PARIWISATA, dll.,

KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT


  • Jarak radius 500 meter dari tepi waduk / danau
  • Jarak 200 meter dari tepi sekeliling mata air dari kiri kanan tepi sungai di daerah rawa
  • Sempadan sungai : jarak 100 meter dari tepi kiri kanan sungai
  • Sempadan sungai : Jarak 50 meter dari tepi kiri kanan anak sungai
  • Jarak 2 kali kedalaman jurang dari tepi jurang
  • Jarak 130 kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai
    Contoh Aliran Sungai yang Tidak Sesuai

Masalah Kualitas Air


  1. Tingkat pencemaran air
  2. Badan air sebagai pembuangan akhir limbah
  3. Tingginya kadar sedimen akibat erosi
  4. Intrusi air laut

Permasalahan Kependudukan


  1. Jumlah penduduk meningkat
  2. Pusat – pusat pemukiman
  3. Penggunaan air yang boros : domestik, irigasi, industri
  4. Pendidikan lingkungan
  5. Perilaku membuang sampah di badan sungai
  6. Penggunaan air melebihi daya dukung
  7. Sanitasi yang masih belum baik

Kelembagaan dan Koordinasi


  1. Kurangnya koordinasi sektor pengguna air (Domestik, Dinas Pengairan / Irigasi, Dinas Pertambangan, Industri, Perikanan)
  2. Peraturan Perundang – undangan tentang air kurang operasional
  3. Kurangnya pemantauan pemanfaatan dan efisiensi penggunaan air 
  4. Lemahnya informasi potensi dan kebutuhan sumberdaya air
    Hubungan Aliran Sungai dan Air Tanah

PERMASALAHAN DAN KEBUTUHAN SUMBERDAYA AIR


  • Pesatnya pertumbuhan ekonomi memacu permintaan akan sumberdaya air baik kuantitas maupun kualitas semakin meningkat.
  • Hak azasi manusia akan air bersih = 50 lt/hari/kapita
  • Sasaran penyediaan air ibukota propinsi di Indonesia 130 lt/har/kapita, DKI 220 lt/hari/kapita, pedesaan 90 lt/hari/kapita, Eropa 300 – 600 lt/hari/kapita dan akan naik menjadi 500 – 1000 lt/hari/kapita dan secara tidak langsung sesungguhnya manusia membutuhkan air ± 2600 l/hari/kapita.
  • Lemahnya posisi tawar kawasan hutan terhadap perubahan fungsi lain yang lebih menguntungkan selain produsen kayu disebabkan lemahnya sistem akunting sumberdaya hutan.
  • Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai intangible hutan lindung yang utamanya sebagai penyedia air mempunyai nilai ekonomi enam kali lebih besar dari nilai kayu.
  • Munculnya isu-isu bahwa keberadaan hutan Pinus dan beberapa jenis yang lain mengakibatkan hilangnya sumber-sumber air.
  • Jumlah penduduk di bumi yang semakin meningkat.

Daftar Pustaka:
Agus Maryono. Presentasi: Reformasi SDA





Tuesday, November 29, 2016

Konsep Dasar Konservasi Tanah dan Air Berbasis Unit Daerah Aliran Sungai (DAS)

Konsep Dasar Konservasi Tanah dan Air Berbasis Unit Daerah Aliran Sungai (DAS)

KONSERVASI TANAH

Konservasi tanah adalah Penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan

KONSERVASI AIR

Konservasi air adalah Penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin yang juga menyangkut waktu aliran dan distribusi aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak lingkungan pada musim penghujan serta akan tetap cukup ketersediaan air pada musim kemarau dan dalam kondisi tetap terjaga kualitasnya

KONSEP  KONSERVASI  AIR

Water harvest = panen air

Prinsip: air dipanen secara langsung
contoh: penampungan air, cekdam, bendungan

Kelemahan:

  1. saat pengumpulan air: aliran permukaan, erosi
  2. Perlu kawasan khusus yg luas

Keuntungan:

  1. air dpt dimanfaatkan sewaktu-waktu
  2. cara water harvest baik utk daerah yg iklimnya tdk menentu.

Water yield = penghasil air

Usaha yang akan membuahkan hasil berupa sumber2 air.
Kelemahan:

  1. Tidak tersedia untuk kepentingan tertentu dalam jumlah besar.
  2. Tersedia dalam lokasi yang tersebar

Keuntungan:

  1. Tidak perlu tempat yang luas
  2. Tidak perlu investasi tinggi
  3. Aman terhadap erosi
  4. Bisa tersebar dimana-mana
  5. Lebih aman dari pada water harvest. 

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Daerah aliran sungai (DAS) adalah Suatu wilayah kesatuan ekosistem yang dibatasi oleh pemisah topografi dan berfungsi sebagai pengumpul penyimpan dan penyalur air, sedimen, unsur hara dalam sistem sungai dan keluar melalui suatu outlet
Skema Daur Hidrologis DAS (Terbuka)

HIDROLOGI

Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya pergerakan dan distribusi air di bumi baik di atas (di atmosfer), pada (di atas permukaan tanah) dan dibawah permukaan bumi ( di dalam tanah) tentang sifat phisik dan kimia air serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubungannya dengan kehidupan

HIDROLOGI HUTAN

Hidrologi hutan merupakan suatu ilmu pengetahuan interdisipliner, penyatuan antara bidang kehutanan dengan hidrologi yang merupakan salah satu cabang ilmu hidrologi yang mengakui kepentingan tunggal pengaruh penutupan hutan terhadap fenomena hidrologi dan kualitas – kualitas lingkungan yang berkaitan

DISTRIBUSI KUANTITATIF AIR DI BUMI

Air di bumi : +/- 1,3 – 1,4 Milyard Km3
Air di seluruh Dunia :
97 % Air Laut
3 % Air Tawar
Menurut Wolman (1962) :
Air Tawar :
75 % sebagai Es dan Glacier
24 % air bawah tanah
0,3 % air danau
0,06 % sebagai soil moisture
0,35 % air di atmosfer
0,03 % air di sungai-sungai dll

TUJUAN USAHA KONSERVASI TANAH


  1. Mencegah kerusakan tanah akibat erosi
  2. Memperbaiki tanah yang rusak
  3. Menetapkan kelas kemampuan lahan
  4. Menentukan Tindakan atau perlakuan agar tanah dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin dan lestari

SASARAN KONSERVASI TANAH


  • Energi perusak (air hujan & aliran permukaan sekecil mungkin sehingga tidak merusak)
  • Agregat tanah lebih tahan terhadap pukulan air hujan dan aliran permukaan
  • Menampung aliran permukaan, lalu mengalirkannya melalui saluran yang telah disiapkan sehingga kerusakan kecil

PENDEKATAN BARU KTA DALAM USAHA TANI


  1. Memfokuskan pada hilangnya tanah dan pengaruhnya terhadap hasil tanaman sehingga perhatian utamanya bukan lagi pada bangunan fisik tetapi kepada metode biologis untuk konservasi seperti halnya penanaman tanaman penutup lahan
  2. Memadukan tindakan konservasi tanah dan konservasi air sehingga masyarakat mendapat keuntungan langsung dari usaha tersebut
  3. Melarang bertani di lereng bukan penyelesaian masalah. Tindakan seperti ini tidak bisa diterima secara sosial dan politis. Yang harus dicari adalah metode bertani yang bisa mempertahankan kelestarian sumberdaya tanah dan alam
  4. Konservasi tanah akan berhasil bila ada partisipasi dari masyarakat terutama para petani. Motivasi masyarakat akan timbul bila mereka melihat keuntungan yang akan diperoleh
  5. Yang terpenting lagi adalah perlu adanya pemahaman bahwa kegiatan konservasi tanah adalah bagian integral dari usaha perbaikan sistem usaha tani


Daftar Pustaka:
Kusumandari, Ambar. 2011. Presentasi: KTA Berbasis DAS. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta

Thursday, November 24, 2016

Teknik dan Kesalahan Pengukuran Sifat Datar dan Pengukuran Beda Tinggi (Pengertian, Alat, dan Waterpassing)

Teknik dan Kesalahan Pengukuran Sifat Datar dan Pengukuran Beda Tinggi (Pengertian, Alat, dan Waterpassing)

PENGUKURAN BEDA TINGGI

Beda tinggi antara dua titik adalah jarak antara kedua bidang nivo yang melalui kedua titik tersebut.
Pengukuran beda tinggi bertujuan untuk mencari tinggi tempat titik-titik di atas bidang dasar tertentu (bidang referensi), yang umumnya dipakai adalah permukaan air laut.

Prinsip pengukuran beda tinggi ada tiga macam, yaitu dengan cara barometris, trigonometris, dan waterpassing atau penyipatan mendatar.

Cara Barometris

Prinsip pengukuran cara Barometris adalah adanya perbedaan tekanan udara pada permukaan bumi pada tempat yang berbeda tingginya.
Makin tinggi tempat dari permukaan laut makin rendah tekanan udaranya.
Dalam pemakaian alat ukur ketinggian barometer maka para juru ukur harus memperhatikan hal-hal berikut :
Barometer harus dilindungi dari terik matahari.
Barometris

Pada waktu memakai, alat ini diketuk perlahan-lahan supaya bagian alat yang seharusnya bergerak dapat bergerak bebas.
Pembacaan supaya dilakukan setelah beberapa menit sesudah jarum dapat menyesuaikan diri secara baik dengan tekanan udara.
Pembacaan dilakukan pada posisi alat yang sama.

Cara trigonometris

Cara trigonometris adalah cara pengukuran beda tinggi yang menggunakan sudut vertikal.
Cara ini merupakan cara tidak langsung karena pengukuran dilakukan dengan mengukur sudut lereng atau persen kelerengan dan panjang lereng.
Beda tinggi diperoleh dari perkalian antara panjang lereng dengan sinus sudut lereng.

Misal, panjang lereng = p, sudut lereng = a à tinggi t = p sin a.
Alat-alat yang digunakan ada yang merupakan alat tersendiri dan ada juga yang tergabung dalam satu alat dengan pengukur jarak dan arah seperti teodolit atau BTM.

Clinometer

Clinometer merupakan alat pengukur kemiringan, dapat digunakan untuk mengukur beda tinggi maupun jarak horizontal.
Alat ini tidak memerlukan penyetelan dan sangat mudah digunakan.
Sekala sebelah kiri dibuat dalam derajat dari 0° ke +90° dan dari 0° ke -90° dan sekala sebelah kanan dalam persen dari 0% ke +150% dan dari 0% ke –150%.
Clinometer

Suatu tabel cosinus tercantum pada sisi belakang alat.
Ketelitiannya dapat sampai satu derajat atau satu persen dan bahkan dapat ditaksir sampai 10 menit atau 1/5%.
Sekala dalam derajat dibaca pada bagian kiri sedang sekala dalam persen terdapat dibagian kanan.

Hitungan
Perbedaan tinggi antara dua titik dihitung dengan rumus :
t  = p sin a
t  = beda tinggi
p = panjang lereng
= sudut kelerengan
Untuk mencari jarak datar digunakan rumus :
h = p cos a
h = jarak horizontal
p = panjang lereng
= sudut kelerengan
Tabel untuk harga cosinus dari 1° sampai 45° tercantum dibelakang alat.

Abney level

Abney level adalah alat untuk mengukur kelerengan.
Cara pemakaiannya sama dengan clinometer.
Cara pembacaan kelerengan pada Abney level langsung dapat dibaca pada busur yang ada di luar seperti pada gambar dan satuannya hanya satu garis yaitu dalam derajat.
Abney Level

Cara pemakaian :
Teropong dibidikkan pada sasaran yang setinggi dengan mata pembidik sehingga garis
bidik sejajar dengan garis lereng.
Alat disetel sehingga bayangan nivo benang silang dan obyek berimpit.
Pembacaan sudut lereng dibaca pada lingkaran vertikal terpotong.
Perbedaan tinggi dihitung dari panjang lereng.

Penyipatan Mendatar / Waterpassing

Penyipatan mendatar merupakan cara pengukur beda tinggi dengan menggunakan garis visir horizontal yang ditunjukkan ke rambu (baak).
Beda tinggi antara dua titik adalah jarak antara kedua bidang nivo yang melalui kedua titik tersebut.

Alat-alat sederhana

Alat-alat sederhana yang biasa digunakan untuk penyipatan mendatar adalah yang menggunakan prinsip bejana berhubungan. Alat ini dapat berupa dua pipa gelas yang dihubungkan dengan selang dan diisi air. Jika kita perhatikan dalam praktek kehidupan sehari-hari, para tukang batu biasanya menggunakan selang plastik yang diisi air untuk penyipatan mendatar. Tinggi kedua titik yang berjauhan dikontrol oleh tinggi muka air pada kedua ujung selang plastic tersebut.
Alat-Alat Sederhana

Praktek tukang batu

Perbedaan tinggi antara dua titik dapat juga diukur dengan bantuan selang. Misal akan diukur beda tinggi antara titik A dan B.
Praktek Tukang Batu

Pengukuran sederhana

Misal akan dicari beda tinggi antara titik A dan B maka pada kedua titik tersebut dipasang rambu yang dipegang oleh dua orang, orang ketiga membidik kedua rambu tersebut. Dengan petunjuk si pembidik, pemegang rambu di A membaca rambunya misal tinggi a¢ dan pemegang rambu di B membaca rambu yang dipegangnya misal setinggi b¢. Maka beda tinggi antara titik A dan B sama dengan : T = a – b.

PENGUKURAN SIFAT DATAR dengan alat ukur optic

Tiga Aspek Penting yang perlu diperhatikan dalam pengukuran sipat datar, yaitu :

Route pengukuran

Pemilihan route ukur perlu diperhatikan karena akan berdampak pada hasil pengukuran dan pencapaian tujuan.
Agar hasil pengukuran dapat mencapai target yang diharapkan dan tanpa melakukan pengulangan pengukuran maka biasanya dilakukan pengukuran pulang dan pergi sehingga dapat dibandingkan kedua hasil pengukuran tersebut, yaitu harus sama besar dan berlawanan tanda.
harus selalu diusahakan pengukuran pulang dan pergi berada pada satu jalur saja.

buku ukur

Buku ukur perlu dievaluasi. Penyediaan buku ukur yang mudah dievaluasi sangat berpengaruh pada keberhasilan pengukuran itu sendiri.
Setiap selesai pengukuran per seksi maka hasil pengukuran tersebut harus segera dievaluasi agar kesalahan yang terjadi pada seksi yang bersangkutan dapat segera diketahui.
Jika terjadi kesalahan maka perlu segera  dilakukan perbaikan pada pengukuran berikutnya.

kalibrasi alat

Kalibrasi alat perlu mendapat perhatian.
Sudah disadari banyak pihak bahwa setiap alat ukur akan mengalami penurunan ketelitian sejalan dengan usia dan jumlah pemakaian alat tersebut. Setiap alat ukur perlu diperiksa dengan teliti sebelum digunakan untuk pengukuran.
Kalibrasi alat termasuk pada tahap persiapan pengukuran.

Persiapan Pengukuran


  • Kalibrasi alat ukur sipat datar, agar tidak terjadi kesalahan ukur akibat dari alat ukur, antara lain : kesalahan benang diafragma, kesalaan garis bidik, dan kesalahan garis nivo.
  • Pemasangan pilar atau rambu ukur, pemilihan lokasi dan pengaturan jarak yang baik. Pemilihan lokasi tempat pilar harus diusahakan memiliki sebaran dan tingkat kestabilan yang tinggi.
  • Selain itu, pilar-pilar pada daerah pengukuran perlu diatur jaraknya agar selalu sama panjang agar bobot per seksi pengukuran sama, perhitungan ketelitiannya dapat dilakukan dengan mudah dan kesalahan per seksi menjadi seimbang.

Teknik Pengukuran Sifat datar pada dua titik

Alat diletakkan di atas salah satu titik yang hendak diukur perbedaan tingginya.
Untuk ini tinggi alat harus diukur.

Misal akan diukur beda tinggi antara titik A dan titik B maka alat diletakkan di salah satu titik tersebut dan rambu diletakkan pada titik yang lain. Misal tinggi alat = a dan pembacaan rambu = b, maka beda tinggi antara A dan B  (t = a – b).
Alat ukur diletakkan di antara dua titik yang akan diukur beda tingginya dan kedua rambu didirikan pada titik-titik yang akan diukur beda tingginya.
Misal akan diukur beda tinggi antara titik A dan B alat diletakkan di antara titik A dan B dan rambu didirikan di atas titik A dan titik B.

Pembacaan rambu di atas titik A = a, dan pembacaan rambu di atas titik B = b. Beda tinggi antara titik A dan B = t = a – b.
Alat didirikan di sebelah yang lain atau di luar dari dua titik yang akan diukur beda tingginya.
Misalnya karena antara kedua titik tersebut terdapat lembah. Rambu didirikan di luar dari kedua titik yang akan diukur beda tingginya.
Pembacaan rambu di atas titik A = a. Pembacaan rambu di atas titik B = b.
Beda tinggi antara titik A dan B = t = a – b.

Pengukuran menyifat datar memanjang/diferensial

Bila antara dua titik yang akan dicari perbedaan tingginya jaraknya terlalu jauh, atau bila garis bidik alat tidak dapat memotong kedua rambu atau karena kedua titik terdapat penghalang maka pengukuran harus dilakukan secara berantai dengan menambah titik-titik pembantu.
Diferensial

Misal dicari beda tinggi antara titik A dan B, titik p, q dan r.
Kedudukan alat diberi notasi T1, T2, T3 dan seterusnya.
Pembacaan rambu belakang(b) dan rambu pada arah muka (m).
Pada kedudukan alat di T1 maka beda tinggi antara titik A dan p adalah t1 = b1 – m1.
Pada kedudukan alat di T2 beda tinggi antara titik p dan q adalah t2 = b2 – m2 dan seterusnya sehingga dapat disusun urutan

Beda tinggi selalu diambil pembacaan rambu belakang dikurangi pembacaan rambu muka. Bila hasilnya positif berani naik dan bila negatif berarti menurun.

Beda tinggi antara A dan B di atas dapat dicari sbb :
t1 = b1 – m1
t2 = b2 – m2
t3 = b3 – m3
t4 = b4 – m4
t1 + t2 + t3 + t4 = (b1 + b2 + b3 + b4) – (m1 + m2 + m3 + m4)

Pengukuran penyifat datar luas

Pengukuran sifat datar luas merupakan modifikasi dari pengukuran sipat datar memanjang dan umumnya bertujuan untuk menghasilkan peta kontur.
Pada pengukuran sipat datar luas ini selalu dilakukan pembuatan kerangka dasar vertikal terlebih dahulu, untuk selanjutnya dari masing-masing titik kerangka tersebut dilakukan pengukuran ketinggian titik-titik detail yang diperlukan.
Dengan demikian, pengukuran sipat datar yang dilakukan adalah dua tahap, yaitu penyajian kerangka dasar ketinggian dan pengukuran ketinggian titik-titik detail.

Kesalahan-kesalahan pada pengukuran sifat datar

Kesalahan petugas

Kesalahan petugas yang disebabkan oleh juru ukur (observer) dapat berupa :

  1. pengaturan instrumen sipat datar yang tidak sempurna,
  2. instrumen sipat datar tidak ditempatkan pada jarak yang sama dari kedua rambu,
  3. kesalahan pembacaan, dan
  4. kesalahan pencatatan.
Kesalahan petugas yang disebabkan oleh rambu, dapat berupa :

  1. penempatan rambu yang tidak betul-betul vertikal,
  2. rambu tipe perpanjangan yang perpan-jangannya dirasakan kurang sempurna, dan
  3. disebabkan terbenamnya rambu karena tidak ditempatkan pada tumpuan yang keras.

Kesalahan instrument

Kesalahan instrumen yang disebabkan oleh petugas dapat berupa penyetelan instrumen sifat datar yang tidak sempurna.
Kesalahan instrumen yang disebabkan oleh rambu, dapat berupa :

  1. graduasi rambu yang tidak teliti,
  2. adanya kesalahan indeks rambu, dan
  3. sambungan rambu tidak sempurna.

Kesalahan alami

Kesalahan alami dapat terjadi karena :

  1. pengaruh sinar matahari langsung sehingga dapat merubah kondisi instrumen sipat datar,
  2. perubahan posisi instrumen sipat datar dan rambu-rambu karena penempatannya tidak pada dudukan yang stabil,
  3. pengaruh refraksi cahaya karena adanya perbedaan temperatur dan kerapan udara, dan
  4. pengaruh lengkung bumi karena permukaan bumi sebenarnya tidak datar.

Daftar Pustaka:

Senawi, Sahid, W. Wardhana, 2011. Survei & Pemetaan Hutan. Cakrawala Media, Yogyakara. 
Bernhardsen, T., 1999. Geographic Information Systems: an introduction. John Wiley and sons chapter 1.


Wednesday, November 23, 2016

Pengukuran Sudut Horisontal (Deklinasi) dan Poligon (Pengertian, Pengukuran, dan Koreksi Sudut)

Pengukuran Sudut Horisontal (Deklinasi) dan Poligon (Pengertian, Pengukuran, dan Koreksi Sudut)

SUDUT

Ada beberapa negara di dunia ini, terutama negara-negara sosialis, arah titik tidak menggunakan azimut, melainkan dengan Bearing.
Bearing adalah sudut lancip yang diukur dari Utara atau Selatan kompas menuju ke arah Timur atau Barat.
Kuadran I dan IV diukur dari arah Utara ke arah Timur (kuadran I) dan ke arah Barat (kuadran IV).
kuadran II dan III diukur dari arah Selatan menuju ke arah Timur (kuadran II) dan ke arah Barat (kuadran III).

Hubungan azimut dan bearing 

  • Pada kuadran I, bearing = azimut, hanya penulisan bearing diawali dengan U ke arah Timur.
  • Pada kuadran II, bearing sama dengan 180 dikurangi azimut, dan penulisannya dari S ke arah Timur.
  • Pada kuadran III, bearing sama dengan azimut dikurangi 180, dan penulisannya dari S ke arah Barat.
  • Pada kuadran IV, bearing sama dengan 360 dikurangi azimut, dan penulisannya dari U ke arah Barat.

Sudut horisontal (Deklinasi)

Sudut yang dibentuk oleh arah Utara sesungguhnya dengan arah Utara jarum magnet disebut sudut deklinasi.
Deklinasi ini dapat positif dan dapat negatif.
Sudut Horisontal (Deklanasi)
Deklinasi positif bila jarum magnet menujuk ke arah Timur terhadap arah Utara – Selatan sesungguhnya,.
Deklinasi negatif bila jarum magnet menunjuk arah Barat terhadap arah Utara – Selatan sesungguhnya.

  • U    = Utara sesungguhnya
  • Um = Utara magnetis
Di Indonesia deklinasi adalah negatif

POLIGON

Poligon berasal dari kata poly yang berarti banyak dan goon yang berarti sudut. Poligon berarti segi banyak.
Pengukuran poligon ialah pengukuran segi banyak; maksudnya adalah untuk menetapkan koordinat titik-titik ukur dan besarnya sudut pada masing-masing titik ukur.
Pada pengukuran poligon ini, yang diukur terutama adalah koordinat titik-titik sudut poligon, jarak antar dua titik sudut atau panjang sisi-sisi dan susut-sudut horizontal antar sisi yang ada.

Pembuatan poligon biasanya dimaksudkan untuk :

  • Menentukan kedudukan tanda-tanda batas yang sudah ada.
  • Menetapkan kedudukan garis batas.
  • Menentukan luas areal yang diketahui oleh batas tertentu.
  • Menentukan kedudukan dari titik buatan dari mana data dapat diperoleh untuk persiapan peta (titik kontrol).
  • Untuk menentukan titik kontrol untuk pemetaan photogrammetris.
  • Menentukan titik kontrol untuk pembuatan jalur, penggalian tanah dan sebagainya.

PENGUKURAN POLIGON

  • Tinjauan dari bentuk fisik visualnya : 4 jenis

Poligon Terbuka

Poligon Terbuka
Secara geometris dan matematis terdiri atas serangkaian garis yang berhubungan tetapi tidak kembali ke titik awal atau titik ukur pertama tidak sama dengan titik terakhir.
Poligon terbuka biasanya digunakan untuk Jalur lintas / jalan raya, saluran irigasi, kabel listrik, tegangan tinggi. kabel Telkom, jalan kereta api.

Poligon tertutup

Pada poligon tertutup, garis terakhir kembali ke titik awal, jadi membentuk  segi  banyak  berakhir  di  stasiun lain yang mempunyai ketelitian letak sama atau  lebih  besar  daripada  ketelitian letak  titik awal.
Poligon Tertutup
Poligon tertutup  memberikan pengecekan pada sudut-sudut dan jarak tertentu, suatu  pertimbangan  yang sangat  penting.
Titik sudut yang pertama = titik sudut yang terakhir.
Poligon  tertutup  biasanya  dipergunakan  untuk pengukuran batas kawasan  hutan, titik kontur, bangunan sipil  terpusat, waduk, bendungan, pemukiman, jembatan  (karena diisolir dari 1 tempat), kepemilikan tanah. topografi kerangka dan jenis pengukuran lainnya yang membutuhkan informasi luasan.

Poligon bercabang

Poligon bercabang adalah dua buah poligon terbuka yang di gabungkan menjadi satu sehingga membentuk sebuah percabangan.
Poligon Bercabang
Poligon ini biasa digunakan untuk memetakan jaringan jalan dan/atau membuat percabangan sungai.

Poligon kombinasi

Poligon kombinasi merupakan gabungan antara 3 poligon yaitu poligon terbuka, poligon tertutup, dan poligon bercabang.
Poligon kombinasi tersebut untuk lingkup Kementrian Kehutanan dalam kegiatan penataan batas kawasan hutan sangat jarang digunakan.
  • Tinjauan dari bentuk geomoteriknya : 3 jenis

Poligon terikat sempurna

Dikatakan poligon terikat sempurna, apabila sudut awal dan sudut akhir  diketahui besarnya sehingga terjadi hubungan antara sudut awal dengan sudut akhir,
Poligon Terikat Sempurna
adanya absis dan ordinat titik awal dan akhir, atau koordinat awal dan koordinat akhir diketahui.

Poligon tidak terikat sempurna

Dikatakan poligon tidak terikat sempurna, apabila hanya diikat oleh koordinat saja atau sudut saja, atau terikat sudut dengan koordinat akhir tidak diketahui.
Poligon Tidak Terikat Sempurna
Hal ini disebabkan oleh kurangnya titik referensi di saat pengukuran berlangsung.

Poligon tidak terikat

Poligon tidak terikat, apabila hanya ada titik awal, azimuth awal, dan jarak namun tidak  diketahui koordinatnya, tidak terikat koordinat dan tidak terikat sudut.
Poligon Tidak Terikat
Pada poligon ini sama sekali tidak ada sebuah koreksi, biasanya hanya mengunakan atau memperbanyak kontrol lebih di saat pengukuran di lapangan, hal ini di sebabkan karena tidak adanya titik ikat pada ujung poligon (poligon ini sering di sebut juga titik bantu).

KOREKSI SUDUT DALAM POLIGON

Prinsip dari koreksi ini, adalah mengecek berapa jumlah dari sudut dalam dari poligon.
Jumlah sudut dalam poligon = (n-2) 180॰.
Jika jumlah sudut dalam dari poligon hasil penggambaran tidak sama dengan (n-2) 180॰, berarti perlu ada koreksi.

Contoh:
Poligon ABCDEA, besarnya sudut dalam masing-masing sudut sebagai berikut :
Sudut            A = 78° 22¢ 30¢¢
               B = 110° 18¢ 00¢¢
               C = 150° 17¢ 30¢¢
               D = 58° 20¢ 25¢¢

               E = 139° 28¢ 30¢¢

Dari poligon tersebut jumlah sudut dalam
                = 535° 105¢ 115¢¢ = 536° 46¢ 55¢¢
Menurut ketentuan jumlah sudut dalam seharusnya
= (n-2) 180° = (5-2) 180° = 540°
Ada kekurangan 540° - 536° 46¢ 55¢¢ = 3° 13¢ 5¢¢
atau setiap sudutnya = 38¢ 37¢¢

à Berarti, setiap sudutnya perlu ditambah 38¢ 37¢¢

Poligon ABCDEA, besarnya sudut hasil koreksi adalah :
A = 78° 22¢ 30¢¢ à 79° 01¢ 07¢¢
B = 110° 18¢ 00¢¢ à 110° 56¢ 37¢¢
C = 150° 17¢ 30¢¢ à 150° 56¢ 07¢¢
D = 58° 20¢ 25¢¢ à 58° 59¢ 02¢¢
E = 139° 28¢ 30¢¢ à 140° 07¢ 07¢¢

Daftar Pustaka:
Senawi, Sahid, W. Wardhana, 2011. Survei & Pemetaan Hutan. Cakrawala Media, Yogyakara. 
Bernhardsen, T., 1999. Geographic Information Systems: an introduction. John Wiley and sons chapter 1.

Tuesday, November 22, 2016

Contoh Alat-Alat Surveying Untuk Pemetaan (Sederhana, Optis, dan Theodolite)

Contoh Alat-Alat Surveying Untuk Pemetaan (Sederhana, Optis, dan Theodolite)

Alat Ukur Sederhana

Galah ukur

Galah ukur dibuat dari kayu kering panjang 3 m atau 5 m berbentuk oval dengan tebal bagian tengah 5 cm dan bagian ujung 3 cm.
Galah ukur biasanya dipakai oleh petugas Agraria untuk pengukuran lahan milik.
Pengukuran dengan galah ukur pada tempat datar biasanya digunakan dua galah.

Rantai Ukur

Rantai ukur terdiri dari mata-mata rantai yang dibuat dari kawat baja atau besi dengan tebal 3 atau 4 mm.
Tiap panjang 0,5 m dihubungkan dengan gelang yang berlainan dan tiap 1 m dihubungkan dengan gelang kuningan.
Tiap panjang 5 m diberi gelang yang berlainan baik ukuran atau warnanya.
Panjang rantai ini ada yang 10 m, 20m, dan 30 m.

Pita Ukur

Pita Ukur
Pita ukur ada yang terbuat dari kain atau dari plat baja.
Pita ukur dari kain dibuat dengan lebar 2 cm dan  panjangnya ada yang 10 m, 20 m dan 30 m.
Pita ukur baja dibuat dari baja dengan lebar 2 cm, tebal 0,4 mm dan panjangnya ada yang 20 m, 30 m, sampai 50 m.

Kompas Suunto

Kompas digunakan sebagai alat pengukur sudut di lapangan dengan mengacu kepada salah satu kutub magnet bumi. Tingkat ketelitian adalah 1/3°, pembagian derajat 1/2° dan berat kompas hanya 115 g.

Suunto Klinometer

Klinometer
Suunto genggam handheld klinometer merupakan alat  praktis yang umum digunakan di seluruh dunia oleh para surveyor, insinyur, pembuat peta, para geologis, buruh tambang, arsitek dan orang banyak untuk mengukur ketinggian, sudut vertikal dan kemiringan secara cepat dan mudah.

ALAT UKUR OPTIS

Alat ukur optis terdiri dari :

Statif, tempat meletakkan instrument

Contoh Statif
Statif adalah alat untuk mendirikan instrument terdiri dari kaki tiga dari kayu atau dari aluminium.
Bagian atas berupa alat datar atau lengkung yang ditengah-tengahnya berlubang tempat sekrup guna menghubungkan instrument dengan statif tersebut.
Ujung bawah sekrup terdapat kait gunanya untuk menggantungkan unting-unting.

Rambu, (baak/mistar)

Alat ini berupa papan kayu atau logam (aluminium) yang dicat merah-putih atau hitam-putih.
Panjangnya biasanya 3 m dan dapat dilipat menjadi dua dengan pertolongan engsel atau dapat diperpendek seperti sistem antena.
Sekalanya umumnya berbentuk huruf E dengan segala variasinya.
Rambu

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada rambu adalah :

  1. Rambu harus dipegang tegak (ada yang menggunakan nivo atau unting-unting).
  2. Rambu harus dipegang, tidak boleh disandarkan.
  3. Rambu berdiri tepat di atas titik ukur.

Jalon

Jalon adalah tiang atau tongkat yang akan ditegakkan pada kedua ujung jarak yang diukur. Jalon terbuat dari kayu atau pipa besi, dimana agar tampak jelas maka jalon diberi warna merah putih menyolok. Selang seling warna merah putih tersebut sekitar 25 cm – 50 cm.

Instrument (dapat berupa waterpass, theodolit atau BTM)

Instrumen - alat ukur optis dapat berupa :

  1. Waterpass, 
  2. Theodolite atau Boussole Tranche Montagne (BTM). 
  3. Total Station
  4. Smart Station. 


  • Pada waterpass hanya terdapat satu sumbu saja yaitu tegak atau sumbu I sedang pada theodolite dst terdapat dua sumbu yaitu sumbu I dan sumbu II yang dapat menggerakkan teropong arah vertikal. Instrumen yang akan dibahas adalah theodolit.

Alat bantu lainnya seperti payung, kompas tangan, patok, palu dan lain-lainnya.

Theodolite

Teropong Theodolite
Theodolite

Di dalam teropong terdapat lensa pembantu yang dapat digerakkan dengan sekrup focus untuk membuat garis menjadi kontras. Dengan adanya lensa tersebut panjang teropong menjadi tetap.
Di dalam tabung diafragma terdapat benang diafragma yang berupa satu garis vertikal dan dua garis horizontal yang digariskan pada kaca diafragma. Benang-benang tersebut digunakan untuk membidik sasaran dan untuk mengukur jarak. Dalam keadaan normal titik tengah lensa okuler, titik potong benang silang tengah dan titik tengah lensa objective merupakan satu garis.

KETELITIAN 

Theodolit  tipe T0 termasuk dalam kategori alat tidak teliti (ketelitian bacaan sudut ± 1’ dan ketelitian bacaan jarak ± 1 cm).
Perkembangan teknologi Theodolit tipe T1 (agak teliti), tipe T2 (teliti), tipe T3 (teliti sekali) dan tipe T4 (sangat teliti).
Theodolit tipe T4, ketelitian bacaan sudut ± 0,1” (Nol koma satu detik) dengan ketelitian bacaan jarak 0,1 mm
Muncul baru generasi Total Station dan Smart Station.

Total Station

Total Station merupakan teknologi alat yang menggabungkan secara elektornik antara teknologi theodolit dengan teknologi EDM (Electronic Distance Measurement).
EDM merupakan alat ukur jarak elektronik yang menggunakan gelombang elektromagnetik sinar infra merah sebagai gelombang pembawa sinyal pengukuran dan dibantu dengan sebuah reflektor berupa prisma sebagai target (alat pemantul sinar infra merah agar kembali ke EDM).
Smart Station merupakan penggabungan Total Station dengan GPS Geodetic.

Perbandingan T0 dan TS

Ketelitian bacaan ukuran sudut T0 yaitu : 1’ sedangkan TS jauh lebih teliti yaitu : 1”? .
Ketelitian bacaan ukuran jarak T0 yaitu berkisar ± 1 Cm sedangkan TS jauh lebih teliti yaitu berkisar antara 0,1 Cm – 0,01Cm.

Kemampuan jarak yang diukur oleh TS rata-rata 3.000 meter, sedangkan jarak optimal T0 yaitu 200 meter.
Sumber kesalahan yang bisa dieliminasi atau dihindari dalam pengukuran dengan TS diantaranya yaitu kesalahan kasar (blunder). Kesalahan blunder yaitu kesalahan yang diakibatkan karena kelalaian manusia, contoh diantaranya yaitu : salah baca, salah tulis dan salah dengar.
Kemampuan membaca, menginterpolasi bacaan rambu ukur, menginterpolasi bacaan arah azimuth kompas pada alat T0 setiap orang berbeda beda. Kondisi lelah pun bisa mengakibatkan salah membaca dan salah mendengar.

Pada TS bacaan arah, sudut dan bacaan jarak sudah ditampilkan otomatis pada tampilan layar, bahkan dapat tersimpan secara otomatis dalam memori alat ukur.
Pengolahan data ukuran TS dilengkapi dengan software yang telah disediakan oleh pabrikan, sehingga pengolahan data lebih cepat.
Data ukuran jarak, sudut, azimuth dan koordinat tersimpan di memory alat. Pada beberapa jenis TS, sketsa titik-titik yang diukur dapat ditampilkan posisinya pada layar monitor alat.
Akan tetapi untuk tujuan backup data, dapat pula dilakukan pencatatan pada buku ukur untuk data ukuran TS.

Data ukuran dari T0 harus dicatat dan digambar pada buku ukur, sehingga menambah waktu pekerjaan dibandingkan dengan TS.
Format data hasil ukuran Total Station sudah bisa diaplikasikan langsung dengan program GIS dan digabungkan dengan data GPS.

Data hasil ukuran T0 merupakan data mentah dan harus dilakukan pengolahan data terlebih dahulu.
Kesalahan Kolimasi (garis bidik tidak sejajar dengan sumbu II), kesalahan index vertikal sudah diset Nol sehingga tidak perlu pengaturan lagi.
Pada alat T0 harus dilakukan pengecekan kolimasi dan index vertikal sebelum alat digunakan, sehingga apabila terjadi kesalahan secepatnya dilakukan koreksi sebelum alat tersebut dipakai dalam pengukuran di lapangan.

Pada proses pengukuran stake out atau pencarian titik atau rekonstruksi, TS lebih memudahkan pelaksana dalam mencari titik-titik tersebut. Dengan memasukan koordinat acuan titik dan data jarak dan sudut yang diketahui, maka pencarian titik tersebut lebih mudah, karena alat TS menghitung secara otomatis posisi prisma berdiri.
Pada T0 harus dilakukan perhitungan dengan kalkulator untuk mendapatkan posisi yang paling tepat.
Pada kondisi cahaya redup ataupun gelap, pengukuran masih bisa dilaksanakan karena TS menggunakan teknologi infra merah.

Dengan Theodolite sangat sulit dilakukan khususnya dalam membaca rambu, serta membaca sudut horisontal dan sudut vertikal.
Atraksi lokal yang disebabkan oleh benda-benda logam di sekitarnya berpengaruh terhadap kondisi bacaan yang ditunjukan oleh kompas (T0).
Total Station tidak dipengaruhi oleh atraksi lokal tersebut.

Kesalahan Juru Ukur

Kesalahan juru ukur yang sering terjadi dalam pengukuran umumnya disebabkan oleh :

  1. kekurang hati-hatian (ceroboh), 
  2. kurang pengalaman, dan 
  3. kejemuhan yang terjadi karena keletihan. 

Kesalahan yang sering terjadi


  • Kesalahan penempatan rambu ukur. Kesalahan ini mengakibatkan data pengukuran tidak pada titik ukur yang kita harapkan sehingga data dan informasi tidak sesuai dengan titik koordinat yang seharusnya.
  • Kesalahan tegak rambu. Gerakan arah kanan dan kiri dari pemegang rambu umumnya dapat dikontrol oleh pengukur (pembaca alat) dengan baik, namun untuk arah muka atau belakang rambu tersebut sulit diketahui. 
  • Apabila rambu ukur tersebut miring maka data pembacaan akan menjadi salah. Untuk menghindari kesalahan ini sebaiknya pada rambu diberi sebuah nivo kotak atau anting (bandul) agar tegaknya rambu dapat dikontrol oleh pemegang rambu.
  • Kesalahan pembacaan rambu. Bentuk kesalahan ini adalah yang paling umum terjadi pada pengukuran sipat datar, misalnya kesalahan pembacaan titik desimal, kesalahan membaca harga ukuran, dan kesalahan arah besaran rambu.
  • Kesalahan pembacaan benang silang. Umumnya kesalahan pem-fokus-an dari bayangan akan menjadikan salah pengertian dalam melihat benang silang atau siang garis pada rambu. Hal ini juga dimungkinkan karena pandangan mata yang kurang tajam.
  • Kesalahan pembukuan. Kesalahan ini dapat terjadi karena kekurang-tajaman pendengaran pencatat data atau salah interpretasi sehingga data yang dituliskan ke dalam buku ukur menjadi salah, misalnya 2.345 menjadi 2.435.
  • Kesalahan pemasukan data. Kelebihan ataupun kurang cermatnya pengukur serta tidak terbentuknya kerja sama yang baik antara pengukur dan pencatat data akan menimbulkan kesalahan yang fatal dalam memasukkan data ke dalam kolom yang salah. Hal ini sesungguhnya tidak perlu terjadi seandainya kordinasi dan perencanaan terlebih dahulu dilakukan dengan baik.
  • Kesalahan penetapan gelembung nivo. Kecerobohan pengukur dalm penempatan gelembung nivo ataupun dalam memperkokoh kedudukan statip di atas tanah yang lembek akan menimbulkan pergeseran gelembung. Akibatnya, hasil pengukuran juga akan mengalami pergeseran kedudukan dari yang sesungguhnya.
  • Kesalahan garis bidik. Untuk alat ukur sipat datar yang telah diatur dengan baik, apabila gelembung telah berada di tengah nivo, maka garis bidik haruslah mendatar. Dengan sendirinya jika hal tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi perolehan data pembacaan rambu yang salah.

Keadaan alam

Keadaan alam yang paling berpengaruh pada pengukuran adalah suhu, tekanan udara serta kelembaban udara.
Selain berpengauh kepada stamina juru ukur juga memiliki efek pada pemuaian alat ukur dan efek melengkungnya sinar yang masuk ke dalam teropong sejak mulai dari target yang dibidik (refraksi).
Untuk mengantisipasi gangguan alam tersebut para juru ukur melindungi alat ukur dari panas matahari langsung dengan payung.

GPS

GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat.
Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan.
Saat ini GPS sudah banyak digunakan orang di seluruh dunia dalam berbagai bidang aplikasi.

Kemampuan GPS

Kemampuan GPS dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah.
Ketelitian dari GPS dapat mencapai beberapa mm untuk ketelitian posisinya, beberapa cm/s untuk ketelitian kecepatannya dan beberapa nanodetik untuk ketelitian waktunya.
Ketelitian posisi yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya.

Tipe GPS

Ada 3 macam tipe alat GPS, dengan masing-masing memberikan tingkat ketelitian (posisi) yang berbeda-beda.

  1. GPS tipe Navigasi (Handheld, Handy GPS) Harganya cukup murah, sekitar 1 - 4 juta rupiah, namun ketelitian posisi yang diberikan saat ini baru dapat mencapai 3 sampai 6 meter.  
  2. GPS tipe geodetik single frekuensi (tipe pemetaan), yang biasa digunakan dalam survey dan pemetaan yang membutuhkan ketelitian posisi sekitar cm sampai dengan beberapa desimeter. 
  3. GPS tipe Geodetik dual frekuensi yang dapat memberikan ketelitian posisi hingga mencapai milimeter. Tipe ini biasa digunakan untuk aplikasi precise positioning seperti pembangunan jaring titik kontrol.

Faktor yang  mengakibatkan error pada receiver


  • Delay di  ionosphere dan troposphere: sinyal satelit melambat begitu melewati atmosfir bumi; 
  • Signal ultipath: terjadi ketika sinyal GPS dipantulkan oleh gedung tinggi atau permukaan padat sebelum  sinyal mencapai receiver. Ini menambah lama waktu perjalanan sinyal, karena itu menyebabkan error; 
  • Error pada clock di receiver: Built-in Clock di receiver tidak seakurat atomic clock yang  ada di satelit GPS. Maka dari itu, akan mudah terjadi error dalam penentuan waktu; 
  • Orbital ephemeris error, terjadi akibat ketidakakuratan laporan lokasi satelit; 
  • Jumlah satelit terlihat: Semakin banyak satelit yang dapat “dilihat” oleh receiver, semakin akurat informasi yang didapat. Bangunan, kontur bumi, interferensi peralatan elektronika atau bahkan rimbun dedaunan dapat mengganggu penerimaan sinyal yang menyebabkan kesalahan posisi. Receiver biasanya tidak bisa bekerja di dalam ruangan, di dalam air atau di bawah tanah; 
  • Geometri satelit: Ini merujuk pada posisi relatif satelit di suatu waktu tertentu. Geometri satelit ideal terjadi ketika satelit berada di sudut yang lebar relatif terha-dap satelit lainnya. Geometri yang buruk terjadi  etika satelit berada pada satu garis atau jarak yang terlalu dekat dengan yang lain

Hal-hal yang perlu diperhatikan


  • Sebelum berangkat ke lapangan untuk setiap harinya perlu dilakukan pengecekan SETUP parameter. Pengecekan mutlak dilakukan setelah penggantian baterai.
  • Pemilihan lokasi pengukuran yaitu : lokasi sebaiknya terbuka, hindari jalur transmisi tegangan tinggi dan juga stasiun pemancar radio.
  • Pengoperasian alat sangat tergantung pada RECEIVER yang dipakai dan metode pengukuran yang dilakukan. Demikian pula dengan ketelitian hasil yang diharapkan. Untuk pengukuran dengan metode absolute, sebaiknya satu titik diambil beberapa kali pengukuran dan hasilnya dirata-rata. Hasil pengukuran sebaiknya disimpan dalam memori alat dan juga dicatat dalam buku kerja. 

Daftar Pustaka:
Senawi, Sahid, W. Wardhana, 2011. Survei & Pemetaan Hutan. Cakrawala Media, Yogyakara.
Bernhardsen, T., 1999. Geographic Information Systems: an introduction. John Wiley and sons chapter 1.