Thursday, January 18, 2018

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pengenalan Alat-alat Tebangan

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pengenalan Alat-alat Tebangan

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan
Pengenalan Alat-alat Tebangan


Tujuan


  1. Memperkenalkan alat-alat tebangan yang banyak digunakan
  2. Mengetahui bagian-bagian dan fungsi masing-masing
  3. Dapat memahami cara pengoperasian alat tebangan


Dasar Teori

Pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon dan biomassa lainnya menjadi bentuk yang dapat dipindahkan ke lokasi lain sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat. Sistem pemanenan kayu umumnya didefinisikan sesuai dengan bentuk atau cara pengngkutan kayu, atau metode dan peralatan, atau kombinasi keduanya yang digunakan dalam serangkaian kegiatan pemanenan kayu. Sistem pemanenan berdasarkan energi yang dipakai, dibedakan menjadi :

  • Sistem manual, yaitu sistem pemanenan kayu yang dilaksanakan dengan tenaga manusia (misal Penyaradan dengan sistem kuda-kuda di hutan rawa)
  • Sistem semi mekanis, yaitu sistem pemanenan kayu yang dilakukan dengan tenaga manusia namun dengan bantuan mesin-mesin pemanenan kayu (mis. Penebangan pohon dengan bantuan chainsaw)
  • Sistem mekanis, yaitu sistem pemanenan kayu dengan menggunakan mesin-mesin pemanenan kayu (misal Pemanenan kayu dengan menggunakan feller buncher) (Sutopo, 1982).


Mata rantai harus tipis untuk memberikan gergajian yang baik dengan berat alat yang ideal. Mata rantai dibuat makin ke ujung harus semakin tajam hingga mempermudah penebangan. Beberapa tipe mata rantai yaitu Lance Teeth, Peg Tooth, dan Champion Tooth (Wackerman, 1949).

Peralatan pemanenan adalah peralatan yang efektif dan berdampak minimal yang pada gilirannya dapat meningkatkan pasokan kayu bundar dan bahan baku serpih. Kebutuhan kayu bundar dan bahan baku serpih cenderung meningkat. Pasokan bahan baku kayu tersebut perlu didukung oleh teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal (Dulsalam dan Sukadaryati, 2001).

Alat dan Bahan


  1. Alat tulis
  2. Bermacam-macam kapak
  3. Gergaji tangan
  4. Chain saw


Cara Kerja

Pertama, Mengetahui dan mengenali jenis-jenis alat tebang, lalu menjelaskan bagian-bagian dan fungsi dari masing-masing alat tebang, lalu mengamati dari masing-masing alat, dan menggambar masing-masing alat tebang di kertas, lalu membahas fungsi dari setiap alat.

Daftar Pustaka

Dulsalam dan Sukadaryati. 2001. Produktivitas dan Biaya Penyaradan Kayu dengan Kerbau di Jambi. IPB. Bogor
Sutopo, S. 1982. Sistem penyaradan pada eksploitasi hutan pinus di Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 2 (3):1-9. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor
Wackerman, A.E.. 1949. Harvesting Timber Crops. Majestic Books. London

Wednesday, November 29, 2017

Pengertian, Dasar, Kedudukan, dan Tujuan Silvikultur

Pengertian, Dasar, Kedudukan, dan Tujuan Silvikultur

Pengertian, Dasar, Kedudukan, dan Tujuan Silvikultur


Pengertian Silvikultur

Pengertian dari silvikulutur adalah seni pembentukan dan pemeliharaan hutan pada pengetahuan silvika sesuai dengan tujuan tertentu tanpa meninggalkan aspek ekonomi.
Manfaat dari silvikultur sendiri dapat berupa manfaat langsung maupun tidak langsung, contohnya hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu beserta hasil pengolahan lanjutannya

Dasar Silvikultur

Dasar dasar silvikultur dapat berupa:
  1. Merupakan ilmu pengetahuan biologi dan ilmu pengetahuan ekologi
  2. Silvikultur selalu berkaitan dengan sosial ekonomi dan administrasi
  3. Konflik ekologi, ekonomi, dan administrasi harus dapat diselesaikan
  4. Harus dapat menganalisis tegakan pohon dan keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitar
  5. Silvikultur harus baik dan bersifat menguntungkan


Kedudukan Silvikultur

Kedudukan silvikultur dapat dilihat dari:
  1. Silvikultur itu seperti agronomi di pertanian
  2. Silvikultur berkaitan dengan silvika, fisiologi, perlindungan hutan, dan ilmu tanah
  3. Untuk membuktikan kebenaran formal dan ide ide baru di lapangan
  4. Bekerja sama dengan faktor iklim dan tanah
  5. Silvikultur dengan metode yang tepat dalam kegiatan pengelolaan (azas pelestariaan)
  6. Pihak manajemen akan mendapatkan keuntungan dari investasinya dalam menggunakan silvikultur
  7. Dapat memilih dan menentukan pilihan dalam penerapan teknologi silvikultur


Tujuan Silvikultur

Tujuan silvikultur terdapat bermacam macam, berikut tujuan dari silvikultur itu sendiri, yakni:
  1. Menentukan pilihan teknologi, dimana bisa hingga merombak hutan itu sendiri. Dimana berguna untuk mendapatkan bahan baku kayu (pulp, plywood, kayu, dll)
  2. Sebagai kawasan perlindungan sumber daya alam hayati atau sebagai sistem tata air. Dimana sedikit sekali tindakan pengelolaan dalam kawasan tersebut, sehingga hanya dengan cara membiarkannya secara alamiah. Tetapi juga diperlukan tindakan silvikultur jika terjadi bencana alam
  3. Sebagai pembangunan dan pemeliharaan hutan dan menghasilkan produk barang yang berupa kayu dan non kayu, barang dan jasa
  4. Mengatur struktur tegakan pohon
  5. Mengubah sebagian ekosistem menjadi ekosistem yang baru, sebagiannya dibiarkan alami
  6. Untuk pemanenan hasil hutan, pemandangan yang menarik dan bagus, untuk wisata alam, mengontrol populasi hama, dan perlindungan air
  7. Mengontrol komposisi jenis dari aspek ekonomi ekologi, contohnya Tegakan hutan yang dikelola memiliki jenis yang sedikit ataupun jenis yang berlebihan; jenis yang berharga maupun eksotik dapat ditingkatkan jumlahnya
  8. Mengatur kerapatan tegakan yang dipengaruhi oleh diameter ataupun tinggi; Jika tegakan rapat, maka diameter kecil dan melambat, memacu pertumbuhan, tinggi batang bebas cabang (TBBC) tinggi, dan mengalami prunning alami; Jika tinggi batang bebas cabang (TBBC) rendah atau tegakan jarang, maka diameter besar, sehingga dilakukan penjarangan, begitupula sebaliknya
  9. Pengendalian pertumbuhan suatu tanaman, tergantung dari keadaan ruang tumbuh, dapat dengan cara memberikan ruang tumbuh, yang optimal bagi tanaman pokok
  10. Pengendalian rotasi, dimulai dari penanaman, lanjut ke pemeliharaan, terus penjarangan, lalu panen dan dimulai lagi dari pemanenan, dan seterusnya
  11. Proteksi hama dan penyakit, dengan cara salvage cutting (tebang penyelamatan)
  12. Pelestarian ekosistem, tanah, terbentuknya lahan hutan, dan daur hara

Thursday, November 16, 2017

Ekofisologi : Pengertian, Proses, dan Contoh (Fotosintesis, Respirasi, Transpirasi)

Ekofisologi : Pengertian, Proses, dan Contoh (Fotosintesis, Respirasi, Transpirasi)

Ekofisologi

Pengetian Ekofisiologi

Ekofisiologi adalah ilmu tentang respon fisiologis tumbuhan terhadap lingkungannya (ekologi). Tujuan dari ekofisiologi adalah berguna untuk pengontrolan pertumbuhan, reproduksi, kemampuan bertahan hidup dari tumbuhan tersebut, dan penyebaran geografinya.
Dalam ekofisiologi, terdapat 3 (tiga) pilar utama, dimana Semua pilar utama ini saling berinteraksi, yakni :

  1. Tanah (Edafik)
  2. Tumbuhan (Biotik)
  3. Lingkungan (Abiotik)


Proses Fisiologi

Proses fisiologi terdiri dari berbagai macam, yakni:

Fotosintesis

Proses Ekofisologi contohnya Fotosintesis

Fotosintesis memiliki faktor faktor seperti : klorofil, stomata, daun, karbohidrat, cahaya, suhu, CO2, pohon, air, dan unsur hara.
Fotosintesis terdapat beberapa jenis, yakni : C3 (contohnya tanaman kehutanan) dan C4 (contohnya tanaman pertanian).

Metabolisme Nitrogen

Metabolisme nitrogen adalah proses mengubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik (contohnya protein dan protoplasma).

Respirasi

Respirasi memiliki beberapa faktor faktor, yakni : umur dari fisiologi jaringan, substrat, ransangan adanya luka, zat kimia tertentu, cahaya, air tanah, suhu, CO2 dan O2, dan nutrisi
Aktivitas dari respirasi yakni : dari kambium menuju ujung akar, lalu kebatang, dan selanjutnya ke dorman (proses dari yang tertinggi).

Transpirasi

Transpirasi adalah proses air menguap pada siang hari melalui stomata, kultikula, lentisel, yang berguna untuk menurunkan suhu permukaan tanaman tersebut.

Gutasi

Gutasi adalah proses keluarnya air garam gula cair pada malam hari yang melalui stomata dan hydatoda.

Asimilasi

Asimilasi adalah proses perubahan makanan menjadi protoplasma baru, dinding sel, dan bahan bahan lainnya.

Penimbunan Garam

Penimbunan garam adalah proses pengumpulan garam di sel sel jaringan yang disebabkan mekanisme transport aktif.

Pengangkutan

Pengangkutan adalah proses perpindahan air mineral, makanan, dan hormon hormon dari tempat satu ke tempat satu lainnya.

Penyerapan

Penyerapan adalah proses menyerap air mineral dari tanah dan menyerap O2 dan CO2 dari udara.

Reproduksi Vegetatif

Reproduksi vegetatif adalah reproduksi dengan menggunakan bagian vegetatif.

Hormon

Hormon adalah pengontrolan seluruh daur hidup tumbuhan tersebut (contohnya perkecambahan, pembungaan, dll.).

Tumbuhan bedasarkan Transpirasi dalam Ekofisiologi

Tumbuhan bedasarkan transpirasi dalam ekofisiologi dibagi dalam beberapa macam, yakni:

Kuat

Kuat dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar 2000mm per tahun. Contohnya adalah sengon, lamtoro, bambu, trembesi, otok otok. Dimana contoh tipe vegetasinya berupa belukar.

Sedang

Sedang dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar 1000 hingga 2000mm per tahun. Contohnya jati, karet, alang alang, nangka, kopi. Dimana contoh tipe vegatasinya berupa hutan dataran rendah dengan transpirasi sebesar 1200mm per tahun.

Kecil

Kecil dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar kurang dari 1000mm per tahun. Contohnya teh, kelapa, beringin, damar, cemara udang. Dimana contoh tipe vegetasinya berupa hutan pegunungan dengan transpirasi sebesar 860mm per tahun.

Kondisi Fisiologi

Kondisi fisiologi terdiri atas:

  1. Jumlah klorofil, karbohidrat, dan senyawa nitrogen
  2. Tekanan osmosis
  3. Turgiditas sel
  4. Protoplasma


Contoh Ekofisiologi

Contoh contoh ekofisiologi terdapat:

  • Skarifikasi : proses ekologinya berupa perlakuan khemis, fisik, dan mekanis; sementara proses fisiologinya berupa dormansi balik
  • Pemupukan : proses ekologinya berupa nutrisi hara; sementara proses fisiologinya berupa translokasi

Tuesday, November 14, 2017

Suksesi : Pengertian, Jenis, Proses, dan Manfaat (Primer dan Sekunder)

Suksesi : Pengertian, Jenis, Proses, dan Manfaat (Primer dan Sekunder)

Suksesi
diambil dari : irwantoforester.wordpress.com

Pengertian Suksesi

Suksesi adalah proses yang diawali dari perubahan akibat dari modifikasi lingkungan dari waktu ke waktu. Saat suksesi sudah mencapai kondisi seimbangnya, maka suksesi tersebut dalam kondisi yang seimbang atau disebut dengan kondisi klimaks.

Macam / Jenis Suksesi

Macam macam atau jenis jenis suksesi terdiri atas:

Suksesi Primer

Suksesi Primer

Suksesi primer adalah suksesi yang dari awal komunitas asal atau awal terganggu penuh, sehingga komunitas dari ekosistem yang lama musnah atau punah.

Suksesi Sekunder

Suksesi sekunder adalah suksesi yang bila dari awal komunitas tidak terusik atau tidak rusak penuh, sehingga komunitas dari ekosistem yang lama masih ada.

Proses Suksesi

Proses suksesi terdiri atas 6 (enam) proses, yakni:

  1. Nudasi : terbukanya substrat; tidak ada apa apa; gundul dan kosong
  2. Migrasi : mulai muculnya biji atau alat perkecambahan lainnya yang datang
  3. Execis : biji atau perkecambahan tersebut yang menetap mulai berkecambah, lalu tumbuh, dan mulai berreproduksi
  4. Kompetisi : biji atau perkecambahan tersebut terjadi kompetisi, yang kuat akan menggantikan spesies yang lama, yang lama mati atau akan mati
  5. Reaksi : perubahan dari tempat tersebut dengan munculnya habitat habitat baru yang dikarenakan hadirnya spesies dari awal
  6. Stabilitas akhir / Klimaks : setelah lengkap, maka sudah terbentuknya suatu ekosistem yang kompleks

Adapun proses suksesi yang lainnya, terdapat 2 (dua) macam, yakni:

  • Hydrosere

Hydrosere (hydro artinya air) dimulai dari air, lalu munculnya tumbuhan air, lalu tumbuhan airnya mengapung, lalu tempat tersebut menjadi payau, lalu muncul rerumputan, hingga semak belukar, dan akhirnya menjadi klimaks

  • Xerosere
Xerosere

Xerosere (xero artinya batu) dimulai dari batu, lalu mulai muncul lumut kerak, hingga lumut kerak tersebut mulai berdaun, lalu muncul jenis algae, lalu muncul tanaman herba, hingga muncul semak dan perdu, dan akhirnya menjadi klimaks

Manfaat Suksesi

Manfaat dari suksesi, dengan proses silvikultur, yakni:
Sebagai Reklamasi Lahan Bekas Tambang

  • Reklamasi lahan bekas tambang
  • Rehabilitasi lahan kritis
  • Rehabilitasi kawasan bekas longsor, dll


Suksesi dan Rehabilitasi

Suksesi dan rehabilitasi memiliki kesamaan, yakni :

  1. Sebagai safe site, contohnya : tumbuhan pionir (tumbuhan yang selalu muncul pada daerah tidak subur atau marginal (marjinal)), adanya pembelukaran, penyimpanan biomassa, dan pembentukan tanah
  2. Sebagai sarana mempercepat suksesi, tapi dari proses mempercepat suksesi ini memerlukan biaya yang besar
  3. Silvikultur rehabilitasi, berlawanan dengna silvikultur produksi
  4. Konservasi ekosistem dengan konservasi sumber daya guna


Tuesday, November 7, 2017

Perakaran (Akar) Pohon : Fungsi, Karakteristik, dan Sistem (Tunjang, Serabut, Gantung)

Perakaran (Akar) Pohon : Fungsi, Karakteristik, dan Sistem (Tunjang, Serabut, Gantung)

Perakaran (Akar) Pohon

Fungsi Perakaran Pohon

Fungsi dari akar pohon yakni:

  1. Tempat untuk mengambil air dan unsur hara
  2. Tempat unutk berjangkarnya pohon agar pohon tersebut tetap berdiri
  3. Sebagai tempat penyimpanan makanan
Biasanya fungsi dari perakaran pohon ini tergantung dari karakteristik lingkungannya, bentuk tanah, dan sifat pohon itu sendiri

Karakteristik Perakaran Pohon

Karakteristik perakaran pohon terdiri dari:

  1. Perakaran pohon memiliki bervariasi yang besar diantara akar per individu sendiri
  2. Kesehatan dan vigoristas dari akar akan mempengaruhi pohon tersebut
  3. Karakteristik dari akar dan tajuk seimbang atau sama


Sistem Perakaran Pohon

Sistem perakaran pohon terdapat tiga macam, yakni:

Akar Tunjang

Akar tunjang memiliki ciri ciri : besar dan gemuk; masuk ke dalam tanah yang berguna unutk mencari makanan atau unsur hara; akar tersebut dapat menyimpan makanan selama masa dormansi; dan hanya dimiliki tanaman dikotil

Akar Serabut

Akar serabut memiliki ciri ciri : dekat dengan permukaan tanah; biasanya berdampingan dengan akar tunjang; dan hanya dimiliki tanaman monokotil

Akar Gantung (Memanjat)

Akar gantung (memanjat) memiliki ciri ciri : hanya dimiliki tumbuhan menjalar; dapat berupa tanaman dikotil ataupun monokotil

Area perakaran sendiri biasanya disesuaikan dengan : ukuran tajuk; kualitas tempat tumbuh; dan keraptan tegakan

Akar Lateral

Akar lateral memiliki ciri ciri : semakin membesar bila pada tempat tumbuh jelek dan atau kering; biasanya berukuran 2 hingga 5 kali dari ukuran tajuk pohon


Kedalaman Perakaran Pohon


  • Kedalam perakaran pohon dipengaruhi oleh faktor genetik, biasanya ada yang bersifat dangkal atau akar tunjang yang dalam
  • Biasanya, dalam kedalaman perakaran pohon, biji yang berukuran besar dan kaya akan simpanan makanan memiliki akar tanjung yang panjang dan berkembang dengan cepat ke dalam tanah
  • Saat masa juvenile (masa permudaan), perkembangan akar yang cepat, biasanya ditandai dengan pertumbuhan pucuk yang lambat


Distribusi dan Biomassa Perakaran Pohon


  • Distribusi dan biomassa perakran pohon dintentukan oleh berbagai jenis, seperti: jenis pohon, umur pohon, lingkungan sekitar pohon, dan unit ukuran pohon
  • Perakaran halus biasanya berdekatan dengan tanah karena banyak mengandung humus dan unsur hara


Kecepatan dan Periodisitas Perakaran Pohon

Kecepatan dan periodisitas terdiri dari 2 macam, yakni:

  1. Epigeal, yakni kotiledon yang terangkat ke atas permukaan tanah
  2. Hipogeal, yakni kotiledon yang tidak terangkat ke atas permukaan tanah

Biasanya akar primer lebih cepat saat perkecambahan, lalu setelahnya, melambat dan dilanjutkan akar lateral


Faktor Lingkungan Perakaran Pohon

Faktor lingkungan perakaran pohon terdiri atas:

Suhu

Suhu sangat mempengaruhi perakaran pohon, bila suhu yang rendah ataupun suhu yang tinggi, maka akar tidak berukuran maksimum; bila suhu tersebut optimal, maka akar akan berukuran maksimum

Oksigen

Oksigen mempengaruhi perakaran pohon, biasanya tingkat aerasi tanah sangat penting bagi akar pohon, supaya akar dapat bernafas secara anaerob yang maksimal

Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah juga memepengaruhi perakaran pohon, bila semakin subur suatu tanah, maka perakaran akan semakin besar dan penetrasi akar tinggi; bila semakin tidak subur suatu tanah, maka perakaran akan semakin tidak besar dan penetrasi akar tidak tinggi

Contoh Penggolongan Jenis Pohon bedasarkan Perakaranya


  • Akar tanjung dan akar cabang banyak, contohnya berupa sengon laut, lamtoro, johor, mindi, dll
  • Akar tanjung dalam dan akar cabang sedikit, contohnya berupa asam, tengguli, angsana, sonokeling, dll

Saturday, November 4, 2017

Toleransi Pohon : Klasifikasi, Ciri-Ciri, dan Penentuan Jenis (Toleran, Intoleran, dan Semi Toleran)

Toleransi Pohon : Klasifikasi, Ciri-Ciri, dan Penentuan Jenis (Toleran, Intoleran, dan Semi Toleran)

Toleransi Pohon


Klasifikasi Toleransi Pohon

Toleransi pohon adalah kemampuan tumbuhan (pohon) untuk hidup dibawah naungan atau seberapa besar tumbuhan (pohon) tersebut membutuhkan cahaya untuk tumbuh. Toleransi pohon ini terdapat beberapa klasifikasi jenisnya, yakni:

Pohon Toleran

Pohon toleran adalah pohon yang membentuk tajuk dibawah pohon lain atau sejenis (induk dengan anak). Contoh dari pohon toleran adalah : kesambi, eboni, agathis, shorea, dll

Pohon Intoleran

Pohon intoleran adalah pohon yang tumbuh baik saat pada tempat yang terbuka (tidak ternaungi) atau kanopi yang terbuka lebar. Contoh dari pohon intoleran adalah : kayu putih, balsa, jati, pinus, sungkai, jabon, sengon, cemara, dll

Pohon Semi-Toleran

Pohon semi-toleran adalah pohon yang saat awal pertumbuhan, membutuhkan naungan,setalah saat dewasa, pohon tersebut membutuhkan cahaya. Contoh dari pohon semi-toleran adalah : bungur, sonokeling, rasamala, ulin, jenis pohon famili dipterocarpaceae, dll

Biasanya dari klasifikasi toleransi pohon tersebut, pohon memiliki sifat toleransi, biasanya dipengaruhi oleh :

  1. Umur, semakin tua, pohon biasanya semakin intoleran
  2. Kekeringan, semakin daerahnya kering, pohon biasanya semakin intoleran
  3. Kesuburan, semakin daerahnya subur, pohon biasanya semakin toleran; dan
  4. Derajat Lintang, semakin jauh dari lintang, pohon biasanya semakin intoleran


Ciri Ciri Toleransi Pohon



  • Pohon toleran dapat mempermuda diri dan membentuk tegakan dibawah tajuk pohon lain atau sejenis. Sementara pohon intoleran hanya mempermuda diri saat tumbuh ditempat terang atau tajuknya terbuka lebar
  • Pohon toleran kuat bertahan tumbuh meskipun lambat, jika terdapat cahaya, dapat tumbuh baik. Sementara pohon intoleran akan cepat mati bila dibawah naungan
  • Pohon toleran mempunyai lapisan tajuk yang tebal. Sementara pohon intoleran mempunyai lapisan tajuk yang tipis
  • Proses pembersihan cabang (pruning) lambat pada pohon toleran dikarenakan tinggi batang bebas cabang (TBBC) rendah atau pendek. Sementara proses pembersihan cabang (pruning) cepat pada pohon intoleran dikarenakan tinggi batang bebas cabang (TBBC) tinggi atau panjang
  • Pohon toleran cenderung memiliki bentuk batang kerucut. Sementara pohon intoleran cenderung memiliki bentuk batang silindris dengan banyak cabang (dalam kondisi kerapatan tegakan sama)
  • Pohon toleran memiliki jumlah cabang lebih banyak. Sementara poho intoleran memiliki jumlah cabang lebih sedikit (dalam kondisi umur dan kualitas tempat tumbuh sama)
  • Pohon toleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya lambat. Sementara pohon intoleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya cepat

Penentuan Toleransi Pohon



Dalam menentukan toleransi pohon kedalam beberapa klasifikasi toleransi pohon, terdapat kriteria yang harus diperhatikan terlebih dahulu, seperti :

  1. Kerapatan tajuk, banyaknya daun yang bertahan pada suatu tajuk
  2. Cahaya minimum, biasanya membutuhkan fotometer portabel
  3. Pemangkasan alami, adalah kecepatan batang membersihkan diri dari cabang
  4. Order cabang, pohon intoleran lebih sedikit daripada pohon toleran
  5. Kecepatan tanaman muda, Pohon toleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya lambat. Sementara pohon intoleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya cepat
  6. Keadaan permudaaan, dapat dilihat dari tanaman dibawah naungan
  7. Struktur daun, pohon intoleran memiliki daun yang lebih tebal. Sementara pohon toleran memiliki daun lebih tipis
  8. Penjarangan alami, semakin toleran, semakin mendominasi
  9. Pembebasan, pohon toleran lebih bertahan dibandingkan pohon intoleran (karena sudah mati)
  10. Kerapatan batang, pohon toleran lebih rapat dibandingkan pohon intoleran
  11. Peruncingan batang, Pohon toleran cenderung memiliki bentuk batang kerucut. Sementara pohon intoleran cenderung memiliki bentuk batang silindris dengan banyak cabang (dalam kondisi kerapatan tegakan sama)


Saturday, October 28, 2017

Intekasi Antar Flora dan Fauna di Hutan : Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme, Saprofit

Intekasi Antar Flora dan Fauna di Hutan : Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme, Saprofit


Interaksi dalam masyarakat hutan biasanya terdiri atas sesama flora dan atau fauna seperti: semak, perdu, rumput, lumut, mamalia, burung, serangga, mikro fauna, mikro fauna dan flora dan fauna lainnya. Contoh dari interaksi terseut adalah:
  1. Cendana, bijinya dimakan burung, keluar saat feses guna permudaan
  2. Daun muda jati dimakan ulat jati
  3. Tanaman tertentu yang tumbuh bila ada serangga tertentu, dll.

Berikut interaksi yang lainnya yang terjadi dalam masyarakat hutan :

Persaingan

Persaingan ini biasanya berupa perebutan unsur hara, cahaya, air, maupun ruang tumbuh. Persaingan ini membuat terbentuknya susunan masyarakat hutan, sesuai ruang tumbuh flora ataupun fauna. Persaingan ini dapat menyebabkan terjadinya seleksi alam

Tolong Menolong

Contoh dari tolong menoloong ini adalah:
  • Mikroorganisme merombak dari tumbuhan dan binatang yang telah mati
  • Tumbuhan saling membantu saat melawan angin dan hujan lebat
  • Pohon yang menutupi tanah, sehingga mencegah pertumbuhan tanaman yang merugikan


Komensalisme

Komensalisme merupakan interaksi tanpa meminta makanan, tetapi hanya menumpang tempat

Epifitisme

Epifitisme merupakan interaksi dengan menumpang tempat, biasanya tanaman yang menumpang mendapatkan air dari hujan saja. Epifit ini dapat menutu jumlah cahaya yang masuk dan merusak kulit pohon jika banyak
  • Contoh dari epifitisme adalah : paku, anggrek, bakteri, lumut


Liana

Liana merupakan tumbuhan berakar dan bersandar di tumbuhan lain
  • Contoh dari liana adalah rotan


Parasitisme

Parasitisme merupakan interaksi yang merugikan dengan cara meminta makanan dan air dari tumbuhan lin
  • Contoh dari parasitisme adalah: jamur miselia, serangga dan hama, bakter, bluestain pada ramin
  • Parasitisme ini adapula yang tumbuhan tinggi tapi berparasit
  • Adapula yang bersifat semi parasit, seperti cendana


Mutualisme

Mutualisme adalah interaksi yang saling menguntungkan
Contoh dari interaksi mutualisme ini adalah:
  • Bintil akar pada tanaman legum (Rhizobium mengikat nitrogen)
  • Lichenes (jamur) dengan alga
  • Mikorisa (jamur) dengan akar (mendapatkan fosfor dan anti patogen)


Saprofit

Saprofit adalah interaksi dengan hidup dari seresah organik dari jasad tak berklorofil
  • Contoh dari saprofit adalah : bakteri, jamur tak berparasitisme


Pencekik


Pencekik adalah tanaman yang dulunya berasal dari epifit, setelah akar mencapai tanah, lalu mencekik inangnya
  • Contoh dari pencekik ini adalah : tanaman ficus


Alelopati

Alelopati adalah zat yang berguna untuk menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya
Contoh dari alelopati adalah : tanaman eucalyptus, mahoni
Adapula yang jenis lainnya adalah
  • Yolatilasi, adalah melepaskan alelopati dalam bentuk gas
  • Eksudasi, adalah melepaskan alelopati dalam bentuk akar