Showing posts with label Konservasi. Show all posts
Showing posts with label Konservasi. Show all posts

Thursday, September 21, 2017

Review Jurnal Rehabilitating Mangrove Ecosystem Services: A Case Study On The Relative Benefits Of Abandoned Pond Reversion From Panay Island, Philippines

Review Jurnal Rehabilitating Mangrove Ecosystem Services: A Case Study On The Relative Benefits Of Abandoned Pond Reversion From Panay Island, Philippines

Contoh Hutan Bakau / Mangrove

Rehabilitasi Hutan Bakau

Hutan bakau menyediakan jasa ekosistem mitigasi dan adaptasi perubahan iklim (CCMA) yang vital, namun telah mengalami penurunan luas di daerah tropis. Untuk mengurangi kerugian tersebut, rehabilitasi dilakukan pada agenda konservasi. Namun, ekosistem dari mangrove yang direhabilitasi di lokasi pasang-surut ini jarang dinilai. Dalam studi kasus dari Pulau Panay, Filipina, dengan menggunakan metode berbasis ke lapangan dan satelit, kami menilai cadangan karbon dan potensi perlindungan pantai dari pinggir laut pasang-surut yang direhabilitasi dan area tambak pasang-surut yang terbengkalai (disewa), terhadap referensi bakau karena ukurannya yang besar dan kondisi lokasi yang tepat, perubahan penampakan ikan yang ditinggalkan ke bekas mangrove ternyata menguntungkan untuk meningkatkan CCMA di zona pesisir. Dalam studi kasus khusus dikotamadya, 96,7% tambak yang ditinggalkan dengan potensi tinggi untuk rehabilitasi yang efektif memiliki status kepemilikan yang baik untuk pengembalian. Temuan ini berimplikasi pada pengelolaan zona pesisir di Asia dalam menghadapi perubahan iklim.


Perencanaan Daerah Spasial dan Pengelolaan Zona Pesisir

Perencanaan daerah spasial dan pengelolaan zona pesisir yang menggabungkan tujuan ekosistem mangrove semakin banyak dalam agenda untuk memprioritaskan area pengelolaan untuk mengurangi degradasi ekosistem. Demikian pula, pendekatan semacam itu dan mempertimbangkan nilai ekosistem mangrove terhadap keseluruhan kelompok pemangku kepentingan, dapat menjadi alat penting untuk mengidentifikasi area kunci untuk rehabilitasi dan restorasi ekosistem mangrove di lahan konversi. Namun, struktur kepemilikan lokal yang diakui secara formal dan hampir formal memberikan tantangan besar terhadap pendekatan perencanaan dan penentuan spasial, dan dapat mempengaruhi keefektifan keputusan manajemen. Sebaliknya, studi kasus kami mengidentifikasi daerah-daerah yang substansial dengan konflik kepemilikan seminimal di wilayah prioritas untuk rehabilitasi mangrove (zona pasang-surut menengah dan atas). Latihan perencanaan tata ruang untuk memprioritaskan beberapa rehabilitasi (berdasarkan misalnya penilaian kerentanan pesisir) pertama-tama harus bertujuan untuk mengevaluasi keberadaan kesenjangan kepemilikan yang diakui secara formal (misalnya pelanggaran kepemilikan atau lahan tidak produktif) untuk mengevaluasi potensi rehabilitasi kawasan yang saat ini memiliki kepemilikan. Dalam kasus seperti rehabilitasi mangrove di Filipina, ini dapat memaksimalkan manfaat: rasio biaya usaha CCMA untuk masyarakat pesisir dan menghindari alokasi dana konservasi terbatas yang tidak efektif dan boros.

Pendekatan Perencanaan Spasial untuk Rehabilitasi Hutan Bakau

Pendekatan perencanaan spasial untuk rehabilitasi mangrove mungkin memiliki relevansi khusus di tempat lain di Asia Selatan dan Tenggara dimana ketiadaan tambak juga sama tinggi: misal Malaysia (60%), Thailand (50-80%) dan Sri Lanka (60-90%). Di negara lain, lebih banyak lagi populasi topan yang diyakini memiliki tingkat untuk mengabaikan tambak yang tinggi (misalnya Vietnam, Taiwan), potensi manfaat CCMA dari identifikasi dan rehabilitasi tambak yang ditinggalkan mungkin merupakan konsekuensi tertentu. Di banyak bagian Asia, banyak daerah tambak yang ditinggalkan (tidak produktif) dengan cepat dikonversi menjadi fungsi alternatif lainnya (misalnya tambak garam, pertanian). Pemantauan dan evaluasi produktivitas akuakultur di dalam wilayah pesisir ini dan penyertaan mereka dalam perencanaan tata ruang untuk rehabilitasi mangrove dapat menjadi sarana untuk menghentikan kerugian tersebut. Namun, relevansi pendekatan semacam itu terhadap wilayah regional yang lebih luas mungkin relatif terbatas di mana: (1) landasan kontinen yang lebih luas meningkatkan kesesuaian rehabilitasi pinggir laut dengan pasang-surut rendah, atau (2) kepemilikan tertulis adalah bentuk dominan dari kepemilikan lahan zona pesisir, sehingga susah diutak-atik.

Kesimpulan

Dalam beberapa dekade terakhir, terdapat bukti yang telah meningkat mengenai potensi relatif rehabilitasi tambak yang ditinggalkan untuk melestarikan hutan mangrove. Studi kasus kami menyoroti kontribusi ekosistem mangrove yang tinggi pada tambak ikan, dengan potensi relatif tinggi untuk rehabilitasi pesisir untuk tujuan CCMA terpadu di Filipina. Sementara studi kasus kami menunjukkan status kepemilikan yang baik untuk area tambak ikan yang paling potensial mulai ditinggalkan, sehingga adanya politik dan kapasitas yang kuat akan diperlukan untuk membatalkan sewa dan merehabilitasi area mangrove sebelumnya. Namun, rehabilitasi mangrove di daerah tambak yang ditinggalkan mungkin merupakan salah satu dari banyak kunci untuk melindungi hutan mangrove, yang terutama penting dalam konteks meningkatnya tingkat keparahan badai dan kenaikan permukaan air laut yang terkait dengan perubahan iklim.


Daftar Pustaka

Duncan, Clare, Jurgenne H. Primavera, Nathalie Pettorelli, Julian R. Thompson, Rona Joy A. Loma, Heather J. Koldewey. 2016. Rehabilitating Mangrove Ecosystem Services: A Case Study On The Relative Benefits Of Abandoned Pond Reversion From Panay Island, Philippines. Marine Pollution Bulletin. Volume 109, Issue 2, Pages 772–782.

Tuesday, September 19, 2017

Contoh Studi Kasus Pengelolaan Satwa Liar : Zebra Dataran (Equus quagga) [Pengertian, Populasi, dan Pelestarian]

Contoh Studi Kasus Pengelolaan Satwa Liar : Zebra Dataran (Equus quagga) [Pengertian, Populasi, dan Pelestarian]

Zebra Dataran (Equus quagga)

Deskripsi Zebra Dataran

Zebra Dataran (Equus quagga, sebelumnya Equus burchellii), juga dikenal sebagai zebra umum atau zebra Burchell, atau secara lokal sebagai "quagga", adalah yang paling umum dan secara geografis tersebar luas. Spesies zebra ini berkisar dari selatan Ethiopia sampai Afrika Timur sampai ke selatan seperti Botswana dan Afrika Selatan bagian timur.

Zebra Dataran (Equus quagga)

Rata-rata, zebra dataran ini lebih kecil dari dua jenis zebra lainnya (zebra gunung atau zebra grévy's). zebra dataran berkisar dari 1-1,5 m dan beratnya bisa hampir 450 kg. Zebra dataran juga memiliki pola garis yang berbeda dari spesies lainnya. Mereka memiliki garis-garis lebar yang berjalan secara horizontal ke arah belakang dan vertikal ke arah depan, bertemu dengan segitiga di tengah tubuh mereka. zebra dataran juga memiliki garis yang membentang di bagian punggung mereka ke ekor, dan, zebra dataran ini memiliki garis bawah laut. Meskipun semua zebra dataran berbagi kesamaan ini dalam pola garis, tidak ada dua zebra yang memiliki pola yang persis sama.

Zebra dataran adalah spesies yang sangat sosial, membentuk harem dengan satu zebra jantan dan beberapa ekor zebra betina dengan keturunan mereka selanjutnya; Ada juga kelompok bujangan. Kelompok bisa berkumpul untuk membentuk kawanan zebra. Mereka menyalak atau mendengus saat melihat pemangsa, dan kuda harem (jantan) menyerang predator untuk mempertahankan haremnya. Populasi spesies ini stabil dan tidak terancam punah, meski beberapa populasi seperti di Tanzania telah menurun tajam. Hingga pada 2016, Zebra dataran diklasifikasikan sebagai kategori Near Threatened (NT) oleh IUCN.

Berkurangnya Populasi Zebra Dataran

Sebenarnya, zebra dataran ini termasuk dalam kondisi stabil dibandingkan dengan 2 zebra lainnya (zebra gunung atau zebra grévy's). Zebra dataran adalah satwa liar yang paling melimpah dari keluarga zebra ini, dengan rentang yang luas dan jumlahnya mungkin melebihi 750.000. Namun, di tingkat lokal, zebra dataran masih terancam oleh perburuan dan perubahan habitat dari peternakan dan jenis peternakan lainnya.
Biasanya, zebra dataran ini menempati kisaran 300 sampai 400 m2 km di musim hujan dan 400 sampai 600 m2 di musim kemarau. Mereka menempuh perjalanan hingga 13 kilometer setiap hari antara daerah peristirahatan mereka di padang rumput tinggi dan di area penggembalaan di daerah padang rumput pendek untuk mendapatkan air dan rumput yang pas. Terdapat kemungkinan zebra dataran ini meminum air dan memakan rumput disekitar penggembalaan ternak lokal, sehingga terjadi pengusiran bahkan hingga pembunuhan terhadap zebra dataran dari pemilik lahan ternak karena mengganggu penggembalaan ternak mereka dan ditakutkan adanya persaingan antar hewan yang mengakibatkan kerugian material bagi pemilik lahan ternak.

Perburuan zebra dianggap wajar dikarenakan populasi mereka yang begitu tinggi sekitar 700.000, tetapi Populasi mereka telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, terutama di Afrika bagian selatan. perburuan liar merupakan ancaman utama yang dihadapi oleh zebra dataran saat ini dan penggelapan hasil dari perburuan tersebut. Zebra diburu untuk daging dan untuk kulit mereka. Daging Zebra diburu dan dimakan di komunitas lokal, sehingga perburuannya dilakukan secara lokal dan tidak digerakkan secara internasional sehingga susah dilacak. Ditambah dengan hilangnya habitat mereka. Perluasan lahan pemukiman dan pertanian tanaman untuk manusia menghancurkan habitat mereka dan menghalangi rute migrasi siklis mereka.

Penyebab lainnya adalah kerusuhan sipil dan pertikaian politik di negara-negara ini mungkin berdampak buruk pada kelangsungan hidup hewan jangka panjang ini. Ketidakstabilan politik mengotori infrastruktur organisasi satwa dan suaka margasatwa yang dibutuhkan untuk menjaga ekowisata dan konservasi. Kerusuhan sipil juga menciptakan permintaan daging yang lebih besar dari perdagangan ilegal.

Solusi atas Berkurangnya Populasi Zebra Dataran

Karena dari banyaknya permasalahan terhadap zebra dataran, maka zebra dataran ini dilindungi di banyak kawasan lindung di seluruh wilayah mereka, contohnya : Taman Nasional Serengeti (Tanzania), Tsavo dan Masaai Mara (Kenya), Taman Nasional Hwange (Zimbabwe), Taman Nasional Etosha (Namibia), dan Taman Nasional Kruger (Afrika Selatan).

Adanya tindakan konservasi untuk spesies ini, dengan cara : 1) Meningkatkan cakupan dan frekuensi pemantauan; 2) Meningkatkan penilaian risiko; 3) Mengukur dan mengelola keanekaragaman genetik baik secara global maupun lokal; 4) Meningkatkan pemahaman tentang 'dasar biologi'; dan 5) Strategi ekonomi untuk pemanfaatan alternatif.

Untuk pemanfaatan alternatif, ditaman nasional serengeti, zebra dataran adalah hewan yang menarik banyak orang untuk ekowisata. Di negara-negara tertentu di Afrika di mana sumber pendapatan lain tidak stabil, ekowisata dapat memberikan kontribusi yang substansial bagi perekonomian secara keseluruhan. Karena garis-garis khas mereka, kulit zebra berfungsi sebagai komoditas penting (dengan syarat bukan perburuan liar). Daging Zebra menyediakan makanan bagi penduduk lokal yang membutuhkan (asalkan tidak berlebihan). Selanjutnya, sebagai bagian dari fauna unggul asli di Afrika timur, mereka sangat penting dalam mempengaruhi dinamika vegetasi, sehingga menambah keanekaragaman hayati.

Di Malawi, ada beberapa tindakan konservasi untuk spesies di Suaka Margasatwa Majete, Taman Nasional Liwonde dan Nkhotakota Wildlife Reserve, yang sedang dikelola oleh African Parks Network, sebuah proyek anti-perburuan (didanai oleh IFAW) dan sekarang berjalan di Taman Nasional Kasungu yang memiliki kapasitas trans-frontier yang menarik wisatawan ke Likusuzi dan Luambe NP's di Zambia (nama daerah), dan ada Proyek Trans-Frontier Nyika yang mencakup ke Nyika NP, Vwaza Marsh WR di Malawi dan Musmunu Game Management Area (daerah perburuan di Musmunu), ditambah dengan Cadangan Hutan Mitenge dan Lundazi di Zambia ( Didanai oleh KWF dan dikelola oleh Departemen Malawi Taman Nasional dan Satwa Liar).

Di Kenya, masyarakat telah memperbaiki mata pencaharian mereka melalui kemitraan dengan “Ol Pejeta Conservancy”, yang dibiayai oleh African Wildlife Foundationyang dimana menghubungkan peternak ke pasar ternak premium dan memberikan harga tinggi terhadap jualannya kepada peternak yang mematuhi kriteria konservasi, sehingga mengurangi kelebihan dagang (overstocking), menghindari degradasi kawasan rumput, dan mengurangi persaingan sumber daya untuk satwa liar seperti zebra.


Daftar Pustaka

Groves, C. 1974. Horses, Asses and Zebras in the Wild. Ralph Curtis Books. Hollywood, Florida.
Grubb, P. 2005. Order Perissodactyla : Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (3rd ed.). Johns Hopkins University Press. USA
King, S.R.B. & Moehlman, P.D. 2016. Equus quagga. IUCN Red List of Threatened Species. (Version 2015.1). International Union for Conservation of Nature.
Moehlman, P. 2002. Equids: Zebras, Asses and Horses. Status Survey and Conservation Action Plan. IUCN - World Conservation Union, Publications Services Unit. Switzerland.
Nowak, R. 1991. Walker's Mammals of the World - Fifth Edition. The Johns Hopkins University Press. Baltimore and London.
Skinner, J. D. & Chimimba, C. T. 2005. Equidae : The Mammals of the Southern African Subregion (3rd ed.). Cambridge University Press. Inggris.

Sunday, September 17, 2017

Contoh Studi Kasus Pengelolaan Satwa Liar : Koala (Phascolarctos cinereus) [Pengertian, Populasi, dan Pelestarian]

Contoh Studi Kasus Pengelolaan Satwa Liar : Koala (Phascolarctos cinereus) [Pengertian, Populasi, dan Pelestarian]


Deskripsi Koala

Koala (Phascolarctos cinereus, atau nama lainnya, yang tidak akurat, koala beruang) adalah marsupial herbivora asal asli Australia. Koala adalah satu-satunya perwakilan keluarga Phascolarctidae dan kerabat terdekatnya adalah wombat. Koala ditemukan di wilayah pesisir wilayah timur dan selatan daratan, yang menghuni Queensland, New South Wales, Victoria, dan Australia Selatan. koala mudah dikenali dari tubuh gemuk, kepala besar dengan telinga bulat dan halus serta hidung berbentuk sendok yang besar.
Koala (Phascolarctos cinereus)

Koala memiliki panjang tubuh 60-85 cm dan beratnya 4-15 kg. Warna bulunya berwarna abu-abu perak sampai coklat coklat. Koala di populasi utara biasanya lebih kecil dan warnanya lebih terang daripada koala yang berasal dari selatan.

Koala (Phascolarctos cinereus

Koala sebenarnya tidak tinggal di hutan hujan atau daerah gurun pasir. Mereka tinggal di hutan eukaliptus yang tinggi dan hutan kayu eukaliptus yang rendah. Untuk wilayahnya, koala ditemukan di hutan eukaliptus di Australia Timur (dan juga Queensland, New South Wales, Victoria, dan Australia Selatan). Mereka adalah hewan soliter yang memiliki habitat yang tetap. Ukuran habitat bergantung pada sumber daya yang tersedia. Total habitat yang dimiliki koala telah berkurang secara signifikan karena hilangnya habitat yang luas sejak pemukiman oleh warga eropa yang menetap.

Di bawah Undang-Undang Konservasi Alam Queensland (Queensland’s Nature Conservation Act) 1992, koala terdaftar sebagai spesies yang rentan (Vulnerable) dan merupakan spesies yang dilindungi. Pada tahun 2012, PBB mencantumkan koala sebagai 'rentan' di Queensland di bawah Undang-Undang Perlindungan Lingkungan dan Konservasi Keanekaragaman Hayati 1999. Diperjelas lagi tahun 2016, Koala terdaftar sebagai Vulnerable oleh IUCN.

Berkurangnya Populasi Koala

Pada tahun 2012, pemerintah Australia mencantumkan populasi koala di Queensland dan New South Wales sebagai Rentan (Vulnerable), karena penurunan populasi 40%. Populasi di Victoria dan Australia Selatan tampak melimpah, tetapi, Australian Koala Foundation berpendapat bahwa jumlah populasi koala adalah kurang dari 100.000.

Koala diburu untuk makanan oleh suku aborigin. Teknik yang umum digunakan untuk menangkap hewan adalah menempelkan satu lingkaran kulit pohon ropey yang panjang dan tipis, sehingga membentuk jerat. Teknik ini digunakan untuk menjerat hewan tinggi di pohon yang dimana di luar jangkauan para pemburu; jika ada koala yang terperangkap dan diturunkan dengan cara ini, kemudian akan dibunuh dengan tangkai batu atau tongkat berburu (waddy). Menurut adat istiadat beberapa suku, dianggap tabu untuk menguliti hewan tersebut, sementara suku lain menganggap kepala binatang itu memiliki status khusus, dan menyelamatkan mereka dari dimakamkan.

Koala juga banyak diburu oleh para pemukim eropa pada awal abad ke-20, sebagian besar karena bulunya yang tebal dan lembut. Lebih dari dua juta ekor diperkirakan telah meninggalkan australia pada tahun 1924 dan lebih dari satu juta koala terbunuh dengan senjata api dan  racun.. Hasil dari bulu koala dijadikan untuk karpet, lapisan mantel, dan pakaian wanita. Pemanenan hasil dari koala terjadi besar-besaran di Queensland pada tahun 1915, 1917, dan pada tahun 1919.

Perburuan Koala untuk diambil Bulunya

Pada saat ini, kehilangan habitat pohon eukaliptus-lah yang menyebabkan populasi koala berkurang (80% habitat Koala sudah hilang), mencakup penghancuran habitat dengan penebangan, sehingga terjadinya fragmentasi, dan modifikasi habitat yang terus berlanjut yakni pengalihan hutan menjadi pemukiman, sehingga koala menjadi rentan terhadap predasi oleh anjing (pemilik lahan) dan predator mereka (rubah). Adapun faktor lainnya yakni kebakaran hutan, penyakit, ditabrak kendaraan, serta kekeringan. Populasi koala yang tersisa tinggal pada daera yang kepadatannya tinggi di habitat yang terisolasi. Sehingga ada banyak ahli yang percaya bahwa Koala akan punah (Extinct) dalam 30 tahun ke depan jika tidak ada upaya untuk melindungi mereka dari sekarang.

Solusi atas Berkurangnya Populasi Koala

Upaya pertama yang berhasil dalam melestarikan koala diprakarsai oleh pembentukan Lone Pine Koala Sanctuary di Brisbane dan Sanctuary Koala Park di Sydney pada tahun 1920an dan 1930an. Yang dimana berhasil mengembangbiakkan koala dan mendapatkan reputasi. Pada tahun 1934 adanya pendirian kandang fauna australia pertama di kebun binatang australia, dan menampilkan koala tersebut.

Tahun 1930-1931, 165 koala ditranslokasi ke Pulau Quail. Setelah adanya pertumbuhan populasi dan setelah adanya kelebihan pemakan dedaunnan (koala) pohon di pulau itu, sehingga daun pohon di pulau Quail berkurang, sekitar 1.300 hewan dikembalikan ke pulau aslinya pada tahun 1944. Sehingga, praktek translokasi koala menjadi hal yang biasa.

Adanya strategi konservasi dan pengelolaan nasional (NRMMC 2009), rencana pemulihan untuk Koala di New South Wales (NSW DECC 2008), strategi manajemen di Victoria (Menkhorst 2004), dan rencana pengelolaan dan pengelolaan konservasi untuk Koala di Queensland (Queensland EPA 2006). Tetapi, adanya penyelidikan dari parlemen  menyimpulkan bahwa strategi konservasi dan pengelolaan nasional sebagian besar diyakini tidak efektif (Komite Referensi Lingkungan dan Komunikasi Senat tahun 2011).
Karena statusnya yang ikonik, sehingga adanya sejarah pengelolaan konservasi yang relatif panjang yang diarahkan secara khusus pada Koala (misalnya Menkhorst 2004, 2008; Queensland EPA 2006; Departemen Lingkungan dan Perubahan Iklim New South Wales 2008; Dewan Menteri Pengelolaan Sumber Daya Alam 2010).

Sovenir Koala untuk Menyelamatkan Koala

Adapula fasilitas penangkaran koala di Australia dan internasional, begitupula dengan yayasan untuk koala, contohnya Australia Koala Foundation, dimana yang bisa dilakukan adalah dengan donasi, penanaman pohon, pembelian sovenir, mengadopsi koala, dsb (savethekoala.com) dan adanya Koala Conservation Centre di pulau Phillip.

Pada akhir tahun 2016, pemerintah Negara Bagian New South Wales (NSW) mengumumkan rencana mengalokasikan dana sebesar $10 juta atau sekitar hampir Rp100 miliar selama 5 tahun untuk melindungi populasi koala di negara bagian tersebut yang terus menurun jumlahnya. "Akan ada kawasan konservasi pribadi untuk mengajak para petani menyisihkan sebagian wilayah di lahan pribadi mereka, dan tidak hanya sekedar mengurung koala-koala itu, tapi juga memulihkan mereka. " kata Menteri Lingkungan NSW, Mark Speakman.

Daftar Pustaka

Anonymous. 2012. Koalas added to threatened species list. ABC News. 1 Mei 2012.
Arifah, Iffah Nur. 2016. Pemerintah NSW Kucurkan Dana Rp 100 Miliar untuk Lindungi Populasi Koala. Australia Plus, 5 Desember 2016.
Gordon, G. Menkhorst, P. Robinson, T. Lunney, D. Martin, R. Ellis, M. 2008. "Phascolarctos cinereus". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2. International Union for Conservation of Nature.
Jackson, S. 2010. Koala: Origins of an Icon. Allen & Unwin. Australia
Martin, R. W.; Handasyde, K. A. 1999. The Koala: Natural History, Conservation and Management. New South Wales University Press. Australia
Moyal, A. 2008. Koala: A Historical Biography. CSIRO Publishing. Australian Natural History Series.

Monday, March 6, 2017

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Diagram Profil Hutan

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Diagram Profil Hutan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HUTAN
DIAGRAM PROFIL HUTAN


DIAGRAM PROFIL HUTAN


Tujuan

Membuat diagram profil hutan secara subyektif.

Dasar Teori
Sebagian besar hutan alam di Indonesia termasuk dalam hutan tropika  basah. Banyak para ahli yang mendiskripsi hutan tropika basah sebagai  ekosistem spesifik, yang hanya dapat berdiri mantap dengan keterkaitan antara  komponen penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh. Keterkaitan antara  komponen penyusun ini memungkinkan bentuk struktur hutan tertentu yang  dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilitas ekonomi, produktivitas  biologis yang tinggi, siklus hidrologis yang memadai dan lain-lain. Secara de  facto tipe hutan ini memiliki kesuburan tanah yang sangat rendah, tanah tersusun oleh partikel lempung yang bermuatan negatif rendah seperti kaolinite dan illite.  Kondisi tanah asam ini memungkinkan besi dan almunium menjadi aktif di  samping kadar silikanya memang cukup tinggi, sehingga melengkapi keunikan  hutan ini. Namun dengan pengembangan struktur yang mantap terbentuklah  salah satu fungsi yang menjadi andalan utamanya yaitu ”siklus hara tertutup” (closed nutrient cycling) dan keterkaitan komponen tersebut, sehingga mampu  mengatasi berbagai kendala/keunikan tipe hutan ini (Kuswanda dan Mukhtar, 2008).

Struktur suatu masyarakat tumbuhan pada hutan hujan tropika basah dapat dilihat dari gambaran umum stratifikasi pohon-pohon perdu dan herba tanah. Struktur vegetasi terdiri dari 3 komponen, yaitu:
Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi.
Sebaran, horisotal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.
Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas.(Kartawinata,1984).

Struktur vertikal hutan digambarkan dengan diagram profil. Diagram profil ialah suatu gambaran susunan ketinggian pohon hutan dalam suatu kuadrat atau petak ukur dengan ukuran tertentu. Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, tergantung densitas pohon dan ditentukan oleh posisi tiap pohon. Posisi pohon digambar sketsa tajuknya berdasarkan skala tertentu diukur tinggi, diukur cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan sehingga langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif (Rososoedarmo,1985).

Dalam studi synekologi, terutama studi komposisi dan struktur hutan, mempelajari profil (statifikasi) sangat pentng artinya. Untuk mengetahui dimensi (bentuk) atau struktur vertikal dan horizontal suatu vegetasi dari hutan yang dipelajari, dengan melihat bentuk profilnya akan dapat diketahui proses dari masing-masing pohon dan kemungkinan peranannya dalam komunitas tersebut, serta dapat diperoleh informasi mengenai dinamika pohon dan kondisi ekologinya. Pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan ropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu:
1. Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang, pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan C).
2. Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling dominan (lapisan A).
3. Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati (Onrizal, 2008).

Suatu sketsa dari profil vegetasi sepanjang garis transek sangat berguna untuk penelitian satwa liar, terutama untuk penelitian burung dan primata yang menempati suatu habitat hutan. Komposisi dari suatu profil habitat sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan tentang hubungan antara derajat kelimpahan satwa liar dengan tipe habitatnya. Ukuran petak contoh untuk pemetaan diagram profil suatu habitat disesuaikan dengan peneliti dan kondisi lingkungan tempat dilakukan penelitian (Soemarwoto, 2004).

Alat dan Bahan

Alat:

1. Tali
2. Meteran/roll meter
3. Kompas
4. Kertas
5. Alat tulis

Bahan:

1. Tumbuhan spesies pohon dengan tinggi ≥5 m.


Cara Kerja

Untuk mengambil data, ditrntukan lokasi pembuatan diagram profil hutan, lalu dibuat plot ukuran 8m X 60m, lalu mengambil informasi (jenis, koordinat x-y, tinggi pohon, panjang tajuk, lebar tajuk, tbbc, sketsa) pada tiap spesies yang ada, lalu menggambarkannya ke dalam diagram profil hutan

Daftar Pustaka

Kartawinata, K.1984.Pengantar Ekologi.Remaja Rosdakarya.Bandung.
Kuswanda, W. dan A.S. Mukhtar. 2008. Kondisi Vegetasi dan Strategi Perlindungan Zona Inti di Taman Nasional Batang Gadis.Sumatera Utara.
Onrizal & C. Kusmana. 2008. Studi Ekologi Hutan Mangrove di Pantai Timur Sumatera Utara. Biodiversitas 9 (1): 25-29
Resosoedarmo, S., Kartawinata, K. dan Soegiarto, A. 1985. Pengantar Ekologi. Fakultas Pasca Sarjana IKIP. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta.
Soemarwoto, Otto. 2004. Buku Ekologi Lingkungan Hidup Dan Pembangunan. Jakarta; Djambatan

Friday, March 3, 2017

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Pengukuran Diversitas Spesies

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Pengukuran Diversitas Spesies

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HUTAN
PENGUKURAN DIVERSITAS SPESIES


PENGUKURAN DIVERSITAS SPESIES


Tujuan

Menghitung indeks Simpson dan indeks Shannon komunitas pohon.

Dasar Teori

Keanekaragaman jenis memiliki pengertian berapa jumlah jenis tumbuhan yang terdapat di dalam satu komunitas. Di alam, kita akan menemukan jenis populasi tumbuhan tertentu sangat dominan, sedangkan jenis yang lain jarang. Untuk memudahkan pengukuran tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan dibuat hipotesa berdasarkan kerapatan populasi di dalam komunitas. Misal, dua komunitas tumbuhan sama-sama memiliki 5 jenis tumbuhan dengan jumlah individu yang sama pula. Komunitas pertama, satu jenis populasi sangat dominan, empat jenis yang lain sangat jarang. Ini berarti tingkat keanekaragaman jenisnya rendah. Komunitas kedua, lima jenis populasi memiliki kerapatan yang sama besar. Ini berarti tingkat keanekaragaman jenisnya tinggi (Indriyanto, 2008).

Indeks Keanekaragaman digunakan untuk mengetahui keanekaragaman hayati biota yang diteliti. Pada prinsipnya, nilai indeks makin tinggi, berarti komunitas diperairan itu makin beragam dan tidak didominasi oleh satu atau lebih dari takson yang ada. Umumnya, jenis perhitungan Indeks Keanekaragaman untuk plankton digunakan rumus Simpson, dan untuk benthos adalah rumus Shannon & Wiener.Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman biota air, dapat diketahui secara umum mengenai status mutu air secara biologis. Kriteria untuk plankton, apabila indeks keanekaragaman Simpson lebih kecil dari 0,6, menunjukkan bahwa telah terjadi perturbasi (gangguan) dari kualitas air terhadap kehidupan plankton (Odum, 1993).

Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies sama dan hampir sama. Sebaliknya jika suatu komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah. Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Komunitas yang tua dan stabil akan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi. Sedangkan suatu komunitas yang sedang berkembang pada tingkat suksesi mempunyai jumlah jenis rendah daripada komunitas yang sudah mencapai klimaks. Komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi lebih tidak mudah terganggu oleh pengaruh lingkungan. Jadi dalam suatu komunitas dimana keanekaragamannya tinggi akan terjadi interaksi spesies yang melibatkan transfer energi, predasi, kompetisi dan niche yang lebih kompleks (Umar, 2013).

Baca Juga : Laporan Praktikum Ekologi Hutan Diagram Profil Hutan

Keanekaragaman hayati tumbuh dan berkembang dari keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetis, dan keanekaragaman ekosistem. Karena ketiga  keanekaragaman ini saling kait-mengkait dan tidak terpisahkan, maka dipandang sebagai satu keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem (Wolf, 1992).

Keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang terdapat pada daerah dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin dan pegunungan tinggi. Sementara itu, keanekaragaman yang tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum. Hutan tropika adalah contoh komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Sementara ahli ekologi berpendapat bahwa komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi, seperti dicontohkan dengan hutan itu mempunyai keanekaragaman yang tinggi itu stabil. Tetapi ada juga ahli yang berpendapat sebaliknya, bahwa keanekaragaman tidak selalu berarti stabilitas. Kedua pendapat ini ditopang oleh argumen-argumne ekologi yang masuk akal, masing-masing ada benarnya dan ada kelemahannya (Rososoedarmo, 1990).

Alat dan Bahan

Alat:

1. Tali
2. Meteran/roll meter
3. Kompas
4. Kertas
5. Alat tulis

Bahan:

1. data analisis vegetasi metode kuadrat.

Cara Kerja

Data dari analisis metode kuadrat digunakan kembali, data tersebut dikompilasi sub A dan sub B, dicari jenis dan jumlah spesies, lalu diolah ke indeks diversitas (simpsons dan shannon),

Daftar Pustaka

Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Bumi Aksara, Jakarta.
Odum, Eugene., 1993. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University press, Yogyakarta.
Resosoedarmo, Soedjiran, 1990, Pengantar Ekologi, PT Remaja Rosdakarya, Jakarta.
Umar, R., 2013. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Wolf, L., 1992, Ekologi Umum,  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wednesday, March 1, 2017

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Analisis Vegetasi Metode Line Intercept

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Analisis Vegetasi Metode Line Intercept

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HUTAN
ANALISIS VEGETASI METODE LINE INTERCEPT


ANALISIS VEGETASI METODE LINE INTERCEPT


Tujuan

1. Mengetahui struktur kuantitatif komunitas tumbuhan bawah berdasarkan spesies penyusun dan persen penutupannya.

Dasar Teori

Analisis vegetasi ditujukan untuk mempelajari tingkat suksesi, evaluasi hasil pengendalian gulma, perubahan flora (shifting) sebagai akibat metode pengendalian tertentu dan evaluasi herbisida (trial) untuk menentukan aktivitas suatu herbisida terhadap jenis gulma di lapangan. Konsep dan metode analisis vegetasi sangat bervariasi tergantung keadaan vegetasi dan tujuan analisis. Metode yang digunakan harus disesuaikan dengan struktur dan komposisi vegetasi. Metode garis (line intercept) biasanya digunakan untuk areal yang luas dengan vegetasi semak rendah. Metode titik (point intercept) biasanya digunakan untuk pengamatan sebuah petak contoh dengan vegetasi yang tumbuh menjalar (creeping). Metode visual (visual emotion) dapat digunakan untuk suatu survey daerah yang luas dan tidak tersedia cukup waktu (Sri, 1979).

Metode Garis Sentuh digunakan untuk komunitas padang rumput dan semak /belukar. Prosedur pelaksanaan metode ini di lapangan adalah sebagai berikut: Salah satu sisi areal dibuat garis dasar yang akan menjadi tempat titik tolak garis intersep: dan Garis-garis intersep diletakkan secara acak atau sistematik pada areal yang akan diteliti. Garis tersebut sebaiknya berupa :
1. Pita ukur dengan panjang 50 - 100 kaki (1 kaki = 30,48 cm)
2. Tambang/tali
Alat bantuan berupa pita ukur atau tambang/tali tersebut dibagi ke dalam interval-interval jarak tertentu. Hanya tumbuh-tumbuhan yang tersentuh, di atas atau di bawah garis intersep yang diinventarisir, Jenis data yang diinventarisir adalah :
1. Panjang garis yang tersentuh oleh setiap individu tumbuhan
2. Panjang segmen garis yang berupa tanah kosong
3. Jumlah interval yang diisi oleh setiap species
4. Lebar maksimum tumbuhan yang disentuh garis intersep (Kusmana, 1997).

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Simorangkir, 2009).

Baca Juga : Laporan Praktikum Ekologi Hutan Pengukuran Diversitas Spesies

Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m. Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat. Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).

Faktor lingkungan seperti kondisi tanah, topografi, iklim dan faktor biotik memungkinkan suatu jenis tumbuhan untuk berkembang di suatu tempat sehingga menjadi jenis yang dominan dan pada gilirannya jenis yang dominan ini akan menciptakan lingkungan tertentu yang sesuai untuk pertumbuhan jenis lain terutama vegetasi penutup lantai hutan dan meningkatan kelembaban tapi juga dengan mengubah struktur tanah dan komposisi kimia. (Agista, 1995).

Alat dan Bahan

Alat

1. Kompas
2. Roll meter
3. Alat tulis
4. Tally sheet
5. Kalkulator

Bahan

1. Komunitas semak
2. Komunitas herba

Cara Kerja

Untuk mengambil data, ditentukan lokasi pembuatan analisis vegetasi metode Line Intecept, dibentangkan roll meter sepanjang 20 meter, lalu pada setiap ruas dilakukan pengamatan komunitas tanaman bawah, identifikasi spesies dan panjang intesep lalu mencatat pada tallysheet dan dilakukan perhitungan analisis

Daftar Pustaka

Agista, D. 1995. Laporan Kuliah Kerja Lapangan I Analisa Kuantitatif Tegakan Palem dan Sapling di Hutan Alam Blok Cimanaracun Taman Wisata Situ Gunung Sukabumbi  Jawa Barat. Bandung: Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran.
Kusmana, C, 1997. Metode Survey Vegetasi. PT. Penerbit Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rohman, Fatchur, Sumberartha I W. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Simorangkir, Roland H., Dkk.Struktur Dan Komposisi Pohon Di Habitat Orangutan Liar (Pongo Abelii), Kawasan Hutan Batang Toru, Sumatera Utara.  Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 6 No. 2 Desember 2009, p.10-20.
Sri, Anggraini. (1979). Populasi dan Sampel, Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia, Jakarta

Monday, February 27, 2017

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Analisis Vegetasi Metode Kuadran

Laporan Praktikum Ekologi Hutan Analisis Vegetasi Metode Kuadran

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HUTAN
ANALISIS VEGETASI METODE KUADRAN


ANALISIS VEGETASI METODE KUADRAN


Tujuan

Mengetahui struktur kuantitatif komunitas pohon bedasarkan spesies penyusun dan INP-nya

Dasar Teori

Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan, satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari (Tjitrosoepomo, 2002).

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).

Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengmatan yang sifatnya permanen atau sementara. petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pada komunitas dianalisis dengan metode ordinasi, pengambilan sample plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu (Jumin, 1992).

Baca Juga : Laporan Praktikum Ekologi Hutan Analisis Vegetasi Metode Line Intercept

Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tiang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta (pancang) dan mulai anakan sampai pohon setinggi 2,5 meter disebut seedling (anakan/semai) (Syafei, 1990).

Cara ini terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m (Polunin, 1990).

Alat dan Bahan

Alat

1. Kompas
2. Tali
3. Meteran kecil
4. Alat tulis
5. Kertas

Bahan

1. Komunitas tumbuhan spesies pohon berdiameter ≥ 10 cm (keliling ≥ 31,4)

Cara Kerja

Dimulai dari membuat transek pada wilayah yang mau diambil datanya, lalu dibuat titik-titik pengamatan dengan garis yang sama, lalu membuat pengamatan pada keempat kuadran, pada setiap kuadran, menentukan pohon terdekat pada tiap titik pada tiap kuadran, poho tersebut diidentifikasi dan dicatat keliling serta jaraknya.


Daftar Pustaka

Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Marsono, DJ. 1977. Diskripsi Vegetasi dan Tipe-tipe Vegetasi Tropika. Yayasan. Pembina Fakultas Kahutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Polunin, N. 1990. Ilmu Lingkungan dan Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Tjitrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press