Thursday, February 8, 2018

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) : Alat Pelindungan Diri

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) : Alat Pelindungan Diri

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan

Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) : Alat Pelindungan Diri


Tujuan

  • Memahami pentingnya aspek kesehatan dan keselamatan kerja.
  • Mengetahui peralatan-peralatan keselamatan kerja pada tiap elemen kegiatan pemanenan.

Dasar Teori

Pada umumnya kegiatan pemanenan hutan dicirikan oleh kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Ketimpangan oleh salah satu faktor dapat menyebabkan resiko yang berbahaya dan akhirnya dapat menyebabkan kecelakaan. Faktor-faktor yang saling berhubungan tersebut adalah manusia, peralatan dan lingkungan kerja, manusia sebagai salah satu faktor penggeraknya merupakan satu-satunya faktor hidup yang sangat rentan dengan bahaya kecelakaan.
Kegiatan pemanenan hutan pada umumnya dicirikan oleh kombinasi faktor antara manusia, peralatan dan lingkungan kerja. Masing-masing faktor memiliki fungsi tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain. Apabila faktor-faktor tersebut berfungsi dengan baik dan benar serta berinteraksi secara selaras, maka pekerjaan akan dapat terselesaikan dengan baik dan dapat menciptakan efisiensi dan prestasi kerja yang tinggi, begitu juga sebaliknya (Rusmana, 2003).

Menurut Wigbjosoebroto (1989), banyak faktor-faktor yang terlibat dan mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam bekerja. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Faktor diri. Faktor ini datang dari dalam diri si pekerja dan sudah ada sebelum ia mulai bekerja. Faktor diri tersebut antara lain: attitude, sikap, karakteristik fisik, minat, motivasi, usia, kelamin, pendidikan, pengalaman, dan sistem nilai.
2. Faktor situasional. Faktor ini datang dari luar si pekerja dan hampir sepenuhnya dapat diatur dan diubah oleh pimpinan perusahaan sehingga disebut juga faktor-faktor manajemen, yang antara lain :
1) Faktor sosial dan keorganisasian seperti karakteristik perusahan, pendidikan dan latihan, pengawasan, pengupahan dan lingkungan sosial.
2) Faktor fisik antara lain mesin, peralatan, material, lingkungan kerja, metode kerja.

Besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap keberhasilan kerja bukannya sekedar hasil jumlah atau rata-rata dari pengaruh setiap faktor tersebut, tetapi merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor tersebut, dan kadang-kadang mengikuti suatu mekanismeyang sangat kompleks. Dengan demikian pimpinan perusahaan harus dapat mengatur semua faktor-faktor tersebut sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan menjalinnya dengan faktor-faktor dari pekerja untuk menciptakan keberhasilan yang maksimal.
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara / metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/ kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya (Departemen Kesehatan, 2008).

Keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan: “Suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas”. Suatu kejadian atau peristiwa tertentu adalah sebab musababnya demikian pula kecelakaan industri/ kecelakaan kerja ini, dimana ada 4 faktor penyebabnya yaitu:
1. Faktor manusianya
2. Faktor materialnya/ bahannya/ peralatannya
3. Faktor bahaya/ sumber bahaya, ada dua sebab :
a) Perbuatan berbahaya; misalnya karena metode kerja yang salah, keletihan/kelesuan, sikap kerja yang tidak sempurna, dan sebagainya.
b) Kondisi/ keadaan bahaya; yaitu keadaan yang tidak aman dari mesin/ peralatan-peralatan, lingkungan, proses, dan sifat pekerjaan
4. Faktor yang dihadapi; misalnya kurangnya pemeliharaan/ perawatan mesin-mesin/ peralatan sehingga tidak bisa bekerja dengan sempurna (Husni, 2000).

Kecelakaan kerja yakni peristiwa yang tidak diinginkan/ diharapkan, tidak diduga, tidak disengaja terjadi dalam hubungan kerja, umumnya diakibatkan oleh berbagai faktor dan meliputi juga peristiwa kebakaran, peledakan, penyakit akibat kerja serta pencemaran pada lingkungan kerja. Berbagai potensi bahaya di tempat kerja senantiasa dijumpai. Mengenai potensi bahaya industrial merupakan langkah awal dalam mewujudkan upaya pencegahan kecelakaan kerja (Husni, 2000).

Suma’mur (1989) membuat batasan bahwa kecelakaan kerja adalah suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan perusahaan. Hubungan kerja disini berarti kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Oleh sebab itu, kecelakaan akibat kerja ini mencakup 2 permasalahan pokok, yakni :
1. Kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan.
2. Kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan.

Alat dan Bahan

  1. Alat tulis
  2. Kalkulator
  3. Microsoft excel
  4. Beberapa kelengkapan keselamatan kerja dalam kegiatan pemanenan hasil hutan.
  5. Video tentang kegiatan pemanenan hasil hutan dan tentang keselamatan kerja.

Cara Kerja

Memperhatikan video tentang keselamatan kerja dan penebangan kayu adalah langkah pertama yang dilaksanakan pada praktikum kali ini, lalu mengamati dan menggambar peralatan keselamatan (APD) yang diperagakan oleh Coass, selanjutnya mencari referensi tentang kesehatan keselamatan kerja khususnya bidang pemanenan hasil hutan kayu (kehutanan), dan yang terakhir menentukan peralatan keselamatan yang diperlukan untuk tiap-tiap kegiatan pemanenan hasil hutan.

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan. 2008. Kesehatan Kerja. www.depkes.go.id
Husni, L. 2000. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada. Cetakan ke-1. Jakarta.
Rusmana, R. 2003. Analisis dan Statistik Kecelakaan Kerja dalam Bunga Rampai. Universitas Diponegoro. Edisi kedua (Revisi). Surabaya.
Suma’mur, P. K. 1989. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. CV. Haji Masagung. Cetakan ke-4. Jakarta.
Wigbjosoebroto, S. 1989. Tehnik Tata Cara Pengukuran Kerja. Penerbit Guna Widya. Surabaya.

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Komposisi Peralatan Pemanenan

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Komposisi Peralatan Pemanenan

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan

Komposisi Peralatan Pemanenan


Tujuan

  • Mampu menentukan kebutuhan alat pada satu kegiatan pemanenan.
  • Mampu menyusun atau merencanakan komposisi alat dan personil yang sesuai dengan kebutuhan dan target produksi.

Dasar Teori

Sistem pemanenan hasil hutan merupakan subsistem dari sstem pengelolaan hutan. Komponen system pemanenan hasil hutan merupakan tahap-tahap kegiatan pemanenan hasil hutan yang merupakan pendukung utama berlakunya sistem pemanenan hasil hutan. Berikut disampaikan komponen-komponen system pemanenan hasil hutan : Timber cutting, Penyaradan, Loading, dan Houling (Haryanto, 2005).

Kegiatan pemanenan juga perlu dilaksanakan dengan memperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan sosial dengan tujuan untuk mengoptimalkan nilai hutan, menjaga pasokan untuk industri stabil, meningkatkan peluang kerja, meningkatkan ekonomi local dan regional. Kegiatan ini dibedakan atas empat komponen utama, yaitu :
1.    Penebangan, yaitu mempersiapkan kayu seperti menebang pohon dan memotong kayu sebelum kayu disarad jika dianggap perlu.
2.    Penyaradan, yaitu usaha untuk memindahkan kayu dari tempat penebangan ke tepi jalan angkutan.
3.    Pengangkutan, yaitu usaha mengangkut kayu dari hutan ke tempat penimbunan atau pengolahan.
4.    Penimbunan, yaitu usaha untuk menyimpan kayu dalam keadaan baik sebelum digunakan tau dipasarkan, dalam kegiatan ini termasuk pemotongan ujung-ujung kayu yang pecah atau kurang rata sebelum ditimbun (Elias, 1998).

Peralatan pemanenan berperan penting terhadap kelangsungan kegiatan pemanenan karena dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan perusahaan. Penggunaan peralatan sangat bervariasi seperti system motor, manual dan mekanis. Untuk saat ini sistem pemanenan yang dipakai menggunakan alat mekanis seperti Harvester, Feller Buncher, Forwarder, Skidder dan sistem kabel, tetapi tidak menutup kemungkinan pada kegiatan pemanenan di hutan skala kecil masih menggunakan peralatan manual seperti : gergaji tangan, kapak, gergaji rantai, sapi dan kerbau. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk kelangsungan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan  pemanenan kayu terutama penebangan maka penggunaan peralatan yang tepat sangat diperlukan (Suhartana dkk, 2009).

Alat dan Bahan

  1. Alat tulis
  2. Kalkulator
  3. Microsoft excel
  4. Target produksi pada suatu perusahaan
  5. Prestasi kerja masing-masing elemen kegiatan pemanenan
  6. Spesifikasi alat-alat pemanenan

Cara Kerja

Pertama, memperhatikan target produksi dan target penyelesaian pekerjaan, lalu memperhatikan prestasi kerja dari masing - masing elemen kegiatan pemanenan, selanjutnya memperhatikan spesifikasi tiap alat yang akan digunakan, membandingjan alat yang ada, kemudian yang terakhir memilih alat yang sesuai dengan kebutuhan dan mampu menyelesaikan target tebangan tepat waktu.

Daftar Pustaka

Elias. 1998.  Forest Harvesting Case Study : Reduced Impact Timber Harvesting  in the Tropical Natural Forest in Indonesia. FAO. Roma.
Haryanto. 2005. Buku Ajar Mata Kuliah Pemanenan Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.
Suhartana, S, Yuniawati, dan Rahmat. 2009. Efisiensi Kebutuhan Peralatan Pemanenan Di Hutan Tanaman Industri, Di Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 26, Edisi Juni 2009.
Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Taksiran Produktivitas Traktor

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Taksiran Produktivitas Traktor

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan

Taksiran Produktivitas Traktor


Tujuan

  • Mempelajari analisa beban dan tenaga serta pemilihan kecepatan taktor pada kegiatan
  • Menaksir produktivitas traktor sarad

Dasar Teori

Penyaradan adalah proses penarikan kayu dari permukaan tanah dengan alat transportasi dengan menggunakan hewan atau peralatan mekanis. Kayu ditarik langsung diatas tanah dengan menggunakan sumber tenaga yang digunakan. Efektifitas penggunaan sumber tenaga mungkin akan mengakibatkan dampak bagi lantai hutan berupa pembersihan permukaan. Penggunaan hewan sebagai sumber energi ketika digunakan dalam system penyaradan terbatas pada kemiringan lapangan, kondisi permukaan, ukuran dan bentuk kayu. Kemiringan yang ideal adalah lebih kecil sama dengan 3%, jika lebih maka hewan akan kesulitan melakukan penyaradan (Stenzel, 1985).

Pada ground skidding kayu-kayu yang akan disarad diikat pada kabel sarad (main line) yang diulurkan dangan tang atau dengan kabel pengulur (haul backline) dan ditarik kemotor dimana pada penyaradan dengan system ini tidak menggunakan tiang yang digunakan sebagai pengangkut batang pohon dari atas tanah tapi dengan menggunakan alat yang telah terdapat pada mesin penyarad yang dihubungkan dengan kabel yang mampu menyarad antara 200-300 ft jika menggunakan mesin yang kecil   penyaradan dengan cara ini sangat tidak ekonomis  untuk  menghandel pohon-pohon dengan volume yang besar karena mesin ini sangat lambat pergerakan kayu yang disarat ketempat pengumpulan kayu, tapi dapat mengangkut  muatan area yang kecil dimana alat penyaradan yang lain tidak menguntungkan untuk hal itu mengangkut ditempat itu (Wackerman. 1949).

Beberapa bentuk kerusakan tanah yang terjadi akibat penyaradan adalah : penggeseran lapisan tanah atas, pemadatan tanah dan erosi. Ketiga bentuk tersebut apabila tidak diantisipasi sejak dini dapat menurunkan kualitas tanah sehingga dapat berakibat pada menurunya produktivitas hutan. Mekanisme penggeseran lapisan tanah atas yang terjadi diawali pada saat cara berputar atau berbeloknya traktor sarad di mana keadaan salah satu telapak traktor dihentikan, sementara telapak lain dipercepat perputarannya, mengakibatkan permukaan tanah di bawah telapak yang dihentikan akan disobek dan digeser dari tempat semula. Penggeseran lapisan tanah atas dapat mengakibatkan hilangnya lapisan sehingga beberapa unsur hara yang dibutuhkan untuk kesuburan tanah menjadi hilang, bahkan terkadang karena penyaradan tersebut sering menimbulkan erosi tanah (Suhartana dkk, 2011).

Alat dan Bahan

  1. Spesifikasi traktor sarad
  2. Kurva drawbar pull dan travel speed
  3. Alat tulis

Cara Kerja

Pertama, memperhatikan spesifikasi traktor yang akan dipakai dalam kegiatan penyardan, lalu menghitung tahanan-tahanan yang bekerja pada traktor tersebut, kemudian, menentukan bebena maksimum yang dapat disarad traktor dan memilih kecepatan yang optimal, terakhir, menghitung produktivitas traktor sarad.

Daftar Pustaka

A.E, Wackerman. 1949. Harvesting Timber Crops. McGraw-Hill. London
Stenzel, G., Thomas, A. Dan J. Kenneth P. 1985. Logging and Puplwood Production. Second Edition. John Willey and Sons. New York.
Suhartana , Sona, Maman Mansyur Idris & Yuniawati. 2011. Penyaradan kayu sesuai standar prosedur operasional untuk meningkatkan produktivitas dan meminimalkan biaya produksi dan penggeseran lapisan tanah atas : kasus di satu perusahaan hutan di jambi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol 29 (3), hal 249
Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pemilihan Alat / Motede

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pemilihan Alat / Motede

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan

Pemilihan Alat / Motede



Tujuan

  • Mempelajari cara pemilihan metode kerja dan peralatan yang sesuai kebutuhan dengan menggunakan analisis break-even point

Dasar Teori

Peralatan pemanenan kayu yang biasa digunakan antara lain  chainsaw untuk penebangan, traktor, dan forwarder untuk penyaradan, loader dan excavator untuk muat bongkar, dan truk untuk pengangkutan. Peralatan tersebut memiliki jenis, tipe, merek, dan jumlah yang berbeda sehingga sangat dituntut adanya pengetahuan tentang perencanaan pemilihan peralatan  yang baik dan efisien. Penggunaan jumlah peralatan pemanenan kayu perlu disesuaikan dengan rencana produksi yang ditetapkan sehingga memungkinkan dihasilkan produksi kayu yang dapat menutup biaya produksi yang dikeluarkan. Bertolak dari latar belakang tersebut maka tulisan ini mengetengahkan penggunaan peralatan pemanenan kayu yang efisien di HTI yang dianalisis berdasarkan batasan tebang maksimum yang dibolehkan (AAC), rencana produksi dan realisasi produksi (Suhartana dan Yuniawati, 2008).

Break Even Point (BEP) atau nilai impas adalah suatu teknis analisis untuk hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, volume penjualan. BEP merupakan pengukuran dimana kapasitas riil pengolahan bahan baku menjadi output, menghasilkan total peneriman yang sama dengan pengeluaran (Soekartawi, 2006).

Titik impas adalah suatu keadaan dimana sebuah perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian dari kegiatan operasinya, karena hasil penjualan yang diperoleh perusahaan sama besarnya dengan total biaya yang dikeluarkan perusahaan. Breakeven point analysis penting bagi manajemen untuk mengetahui hubungan antara biaya, volume dan laba, terutama informasi mengenai jumlah penjualan minimum dan besarnya penurunan penjualan agar perusahaan tidak menderita kerugian (Panomban 2013).

Alat dan Bahan

•    Data biaya
•    Data peralatan
•    Kalkulator dan alat tulis

Cara Kerja

Pertama, mepelajari data yang tersedia, lalu mengelompokkan data kedalam 2 jenis biaya (biaya tetap dan biaya variabel), selanjutnya, menghitung volume kerja dan biaya yang dikeluarkan pada titik break-even, kemudian memilih perlalatan dan metode yang menguntungkan dan membuat grafik.

Daftar Pustaka

Panomban, C P. 2013. Analisis breakeven point sebagai  alat perencanaan laba pada PT. Tropica Cocoprima. ejurnal EMBA. 1(4), 1250‒1261.
Soekartawi. 2006. Analisis Usaha Tani. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Suhartana, Sona dan Yuniawati. 2008. Penggunaan Peralatan Pemanenan Kayu yang Efisien pada Perusahaan Hutan Tanaman di Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol 26 (3), hal 3-4

Thursday, January 18, 2018

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Taksiran Produktivitas Transportasi

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Taksiran Produktivitas Transportasi

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan
Taksiran Produktivitas Transportasi


Tujuan

Mempelajari waktu dengan “formula speed”
Menaksir produksi kegiatan transportasi bedasarkan waktu kegiatan angkutan

Dasar Teori

Manfaat dari adanya transportasi dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:

  • Nilai guna tempat (Place Utility) Yaitu kenaikan atau tambahan nilai ekonomi atau nilai guna dari suatu barang atau komoditi yang diciptakan dan mengangkutnya dari suatu tempat  ke tempat lainnya yang mempunyai nilai kegunaan yang lebih kecil, ke tempat atau daerah dimana barang tersebut mempunyainilai kegunaan yang lebih besara yang biasanya diukur dengan uang (interens of money).
  • Nilai guna waktu (Time Utility)Yaitu kesanggupan dari barang untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menyediakan barang-barang, tidak hanya dimana mereka membutuhkan, tetapi dimana mereka perlukan.

Pemindahan barang dengan angkutan adalah untuk bertujuan menaikkan atau menciptakan nilai ekonomi dari suatu barang, dengan demikian pengangkutan dilakukan karena nilai suatu barang lebih tinggi di tempat tujuan dari pada tempat asalnya. Transportasi diartikan sebagai pemindahan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya, hal ini terlihat bahwa :

  • Adanya muatan yang diangkut.
  • Tersedianya kendaraan sebagai alat angkut.
  • Adanya jalan yang dapat dilalui oleh alat angkut tersebut (Kamalusin, 1986).


Faktor yang mempengaruhi pengangkutan pada kayu antara lain:

  • Letak dan topografi lapangan
  • Keadaan tanah dan iklim
  • Luas daerah yang akan dieksploitasi
  • Jumlah dan ukuran kayu
  • Keadaan jalan
  • Jarak angkutan
  • Biaya angkutan (Junus, 1989).


Kegiatan pengangkutan kayu dimulai setelah kegiatan memuat kayu ke atas truk selesai dilakukan di tempat pengumpulan kayu sementara di tepi hutan ke tempat pengolahan kayu lebih lanjut atau ke TPK. Kegiatan pengangkutan kayu merupakan kegiatan yang menentukan karena biaya pengangkutan kayu merupakan bagian terbesar, yaitu sekitar 50–90% dari biaya pembalakan (Sukadaryati, 2009).


Alat dan Bahan


  1. Rencana tebangan suatu perusahaan
  2. Spesifikasi kendaraan angkutan
  3. Alat tulis dan kalkulator


Cara Kerja

Pertama, menghitung WR, WN, dan WS. Lalu, menghitung PK1 dan PK2 untuk bongkar dan muat. Selanjutnya, menghitung kecepatan kendaraan. Keempat, menghitung waktu/trip dan ditotalkan. Selanjutnya, menghitung produktivitas transportasi

Daftar Pustaka

Kamaludin, Rustian. 1986. Ekonomi Transportasi. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Junus, M., A.R. Warasaka, J.J. Franz, M. Rusmaedy, Sudirman, S.N. Digut, M. Sila. 1989.  Dasar Umum Ilmu Kehutanan.  Buku II.  Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia bagian timur.  Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang.
Sukadaryati. 2009. Pengangkutan Kayu Menggunakan Lima Jenis Truk di Dua Hutan Tanaman Industri di Sumatera. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol 27 (3), hal 3.

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pembuatan Rencana Trase Jalan Sarad dan Jalan Angkut

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pembuatan Rencana Trase Jalan Sarad dan Jalan Angkut

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan
Pembuatan Rencana Trase Jalan Sarad dan Jalan Angkut


Tujuan


  1. Mempelajari cara-cara pembuatan rencana trase jalan angkutan dengan peta topografi
  2. Membuat rencana trase jalan angkutan diatas peta topografi
  3. Mempelajari cara-cara pembuatan rencana trase jalan sarad dengan peta potensi tegakan
  4. Membuat trase jalan sarad di atas peta potensi tegakan


Dasar Teori

Penyaradan kayu adalah kegiatan memindahkan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu (Tpn) atau ke pinggir jalan angkutan. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengangkutan jarak pendek. Untuk mengurangi kerusakan lingkungan (tanah maupun tegakan tinggal) yang ditimbun oleh kegiatan penyaradan kayu, penyaradan seharusnya dilakukan sesuai dengan rute penyaradan yang sudah direncanakan diatas peta kerja, selainitu juga dimaksudkan agar prestasi kerja yang dihasilkan cukup tinggi. Perencanaan jalan sarad ini dilakukan satu tahun sebelum kegiatan penebangan dimulai. Letak jalan sarad ini harus ditandai di lapangan sebagai acuan bagi pengemudi atau penyarad kayu. Hal ini berlaku untuk penyaradan yang menggunakan traktor (Muhdi, 2006).

Jalan hutan dapat diklasifikasikan menurut fungsinya di dalam jaringan jalan menjadi 3 jenis jalan hutan, yaitu: Jalan Utama, Jalan Cabang dan ranting, Jalan sarad, Jalan utama melayani kebutuhan kegiatan pengusahaan hutan secara umum dan menghubungkan wilayah hutan dengan jalan koridor atau jalan umum, serta berfungsi menampung arus angkutan dari jalan cabang. Jalan utama biasanya diperkeras dan berkualitas tinggi serta dipelihara secara rutin. Jalan cabang dan jalan ranting melayani kegiatan pada areal yang terbatas, yakni menghubungkan daerah/tegakan hutan dalam blok dan petak dengan jalan utama. Jalan cabang kadang-kadang diperkeras, kadang tidak diperkeras. Jalan ini dipelihara secara periodic. Jalan sarad melayani keperluan menyarad kayu dari tempat tunggak di jalan angkutan atau landing. Jalan ini menghubungkan tempat tumbuh pohon individu dengan jalan angkutan atau landing. Jalan ini berkualitas rendah (Anonim, 2009).

Buldoser memiliki kelebihan dalam kegiatan penyaradan antara lain jarak sarad yang tidak terbatas dan lebih fleksibel ditinjau dari segi ekonomis. Adapun kelemahannya adalah buldoser tidak dapat digunakan pada daerah rawa, tidak dapat dioperasikan pada berbagai musim, dan tidak dapat dipergunakan pada daerah dengan kelerengan > 40%. Beberapa hasil penelitian yang ada menunjukkan bahwa penyar adan dengan menggunakan bul doser menimbulkan dampak kerusakan yang besar baik itu kerusakan tegakan tinggal maupun keterbukaan lahan akibat kegiatan penyaradan (Ruslim, 2011).

Alat dan Bahan


  1. Peta topografi dengan skala tertentu
  2. Peta potensi tegakan
  3. Kertas kalkir
  4. Jangka
  5. Busur derajat
  6. Penggaris


Cara Kerja

Pertama, dalam jalan angkut, memperhatikan peta topografi yang digunakan, lalu, memperhatikan syarat gradien jalan, selanjutnya menggambar rencana jalan yang akan dibuat dengan spesifikasi jalan dan titik permulaan serta terakhir dan mengukur jalan serta kelerengan.

Kedua, dalam jalan sarad, memperhatikan peta potensi hasil inventore/cruising, lalu, merencanakan agar diangkut lewat sungai, selanjutnya, meletakkan TPK pada perpotongan arah jalan dengan sungai, kemudian, setiap garis sejajar dicari titik berat garisnya, lalu, menghubungkan setiap titik berta garis yang sejajar untuk meentukan arah trase jalan.

Daftar Pustaka

Rusli, Yosep. 2011. Penerapan Reduced Impact Logging Menggunakan Monocable Winch (Pancang Tarik). Journal of Tropical Forest Management. Vol 17 (3), hal 104
Anonim. 2009. Pembukaan Wilayah Hutan dan Keteknikan Kehutanan. Universitas Hasanuddin. Makassar
Muhdi. 2006. Pemanenan Hasil Hutan. USU. Medan.

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pengamatan Waktu Kerja

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pengamatan Waktu Kerja

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan
Pengamatan Waktu Kerja


Tujuan


  1. Mempelajari cara-cara waktu pengamatan kerja (time study)
  2. Dapat melaksanakan pekerjaan pengamatan waktu kerja hingga mendapatkan data-data terukur dari suatu pekerjaan


Dasar Teori

Barangkali bagian yang paling penting tetapi justru yang paling sulit didalam pelaksanaan pengukuran kerja adalah kegiatan evaluasi kecepatan atau tempo kerja operator pada saat pengukuran kerja berlangsung. Kecepatan, usaha, tempo, ataupun performance kerja semuanya akan menunjukkan kecepatan gerakan operator pada saat bekerja. Aktifitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatan kerja operator ini dikenal sebagai Rating Performance. Secara umum kegiatan rating ini dapat didefinisikan sebagai a process during which the time study analyst compare yhe performance (speed or tempo) of the operator under observation with the opserver’s own concept of normal performance (Wignjosoebroto, 1992).

Kegiatan pelaksanaan kerja, kegiatan evaluasi kecepatan, dan waktu kerja operator merupakan bagian paling penting dan paling sulit dalam pelaksanaan pengukuran kinerja operator saat kegiatan berlangsung. Kecepatan, usaha, jarak, ataupun kinerja kerja lainnya akan memberikan kecepatan gerakan operator pada saat bekerja. Aktivitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatan kerja operator dikenal sebagai peringkat kinerja (Sutalaksana, 2006).

pengukuran kerja pada dasarnya merupakasuatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang operator atau pekerja yang terlatih untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik pada tingkat kecepatan kerja yang normal, dan dalam lingkngan kerja yang terbaik pada saat itu. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengukuran waktu kerja yang akan  dilakukan menggunakan mtode pengukuran waktu kerja secara langsung. Pengukuran waktu kerja secara langsung dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu metode jam henti (stopwatch) dan work sampling (Sukma, 2013).

Alat dan Bahan


  1. Data sekunder penebangan
  2. Data sekunder penyaradan
  3. Data sekunder pengangkutan
  4. Stop watch
  5. Blangko pengamatan
  6. Alat tulis
  7. Kalkulator


Cara Kerja

Dimulai dari menyusun elemen kerja, yang terdri dari elemen utama dan allowance. Selanjutnya menghitung waktu standar dan waktu normal. Diakhiri dengan membuat prestasi kerja elemen utama dan allowance

Daftar Pustaka

Sukma, Novita. 2013. Analisis Pengukuran Waktu Kerjadengan Metode Pengukuran Kerja Secara Langsung pada Bagian Pengemansan PT JAPFA COMFEED INDONESIA Tbk. Jurnal Lulusan TIP FTP UB. Vol 1, hal 3
Sutalaksana,  Iftikar Z., dkk. 2006. Teknik Perancangan Sistem Kerja. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Wignjosoebroto, Sritomo. 1992. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja. Surabaya: Guna Widya.
Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pengenalan Alat-alat Tebangan

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan Pengenalan Alat-alat Tebangan

Laporan Praktikum Pemanenan Hasil Hutan
Pengenalan Alat-alat Tebangan


Tujuan


  1. Memperkenalkan alat-alat tebangan yang banyak digunakan
  2. Mengetahui bagian-bagian dan fungsi masing-masing
  3. Dapat memahami cara pengoperasian alat tebangan


Dasar Teori

Pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon dan biomassa lainnya menjadi bentuk yang dapat dipindahkan ke lokasi lain sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat. Sistem pemanenan kayu umumnya didefinisikan sesuai dengan bentuk atau cara pengngkutan kayu, atau metode dan peralatan, atau kombinasi keduanya yang digunakan dalam serangkaian kegiatan pemanenan kayu. Sistem pemanenan berdasarkan energi yang dipakai, dibedakan menjadi :

  • Sistem manual, yaitu sistem pemanenan kayu yang dilaksanakan dengan tenaga manusia (misal Penyaradan dengan sistem kuda-kuda di hutan rawa)
  • Sistem semi mekanis, yaitu sistem pemanenan kayu yang dilakukan dengan tenaga manusia namun dengan bantuan mesin-mesin pemanenan kayu (mis. Penebangan pohon dengan bantuan chainsaw)
  • Sistem mekanis, yaitu sistem pemanenan kayu dengan menggunakan mesin-mesin pemanenan kayu (misal Pemanenan kayu dengan menggunakan feller buncher) (Sutopo, 1982).


Mata rantai harus tipis untuk memberikan gergajian yang baik dengan berat alat yang ideal. Mata rantai dibuat makin ke ujung harus semakin tajam hingga mempermudah penebangan. Beberapa tipe mata rantai yaitu Lance Teeth, Peg Tooth, dan Champion Tooth (Wackerman, 1949).

Peralatan pemanenan adalah peralatan yang efektif dan berdampak minimal yang pada gilirannya dapat meningkatkan pasokan kayu bundar dan bahan baku serpih. Kebutuhan kayu bundar dan bahan baku serpih cenderung meningkat. Pasokan bahan baku kayu tersebut perlu didukung oleh teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal (Dulsalam dan Sukadaryati, 2001).

Alat dan Bahan


  1. Alat tulis
  2. Bermacam-macam kapak
  3. Gergaji tangan
  4. Chain saw


Cara Kerja

Pertama, Mengetahui dan mengenali jenis-jenis alat tebang, lalu menjelaskan bagian-bagian dan fungsi dari masing-masing alat tebang, lalu mengamati dari masing-masing alat, dan menggambar masing-masing alat tebang di kertas, lalu membahas fungsi dari setiap alat.

Daftar Pustaka

Dulsalam dan Sukadaryati. 2001. Produktivitas dan Biaya Penyaradan Kayu dengan Kerbau di Jambi. IPB. Bogor
Sutopo, S. 1982. Sistem penyaradan pada eksploitasi hutan pinus di Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 2 (3):1-9. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor
Wackerman, A.E.. 1949. Harvesting Timber Crops. Majestic Books. London

Wednesday, November 29, 2017

Pengertian, Dasar, Kedudukan, dan Tujuan Silvikultur

Pengertian, Dasar, Kedudukan, dan Tujuan Silvikultur

Pengertian, Dasar, Kedudukan, dan Tujuan Silvikultur


Pengertian Silvikultur

Pengertian dari silvikulutur adalah seni pembentukan dan pemeliharaan hutan pada pengetahuan silvika sesuai dengan tujuan tertentu tanpa meninggalkan aspek ekonomi.
Manfaat dari silvikultur sendiri dapat berupa manfaat langsung maupun tidak langsung, contohnya hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu beserta hasil pengolahan lanjutannya

Dasar Silvikultur

Dasar dasar silvikultur dapat berupa:
  1. Merupakan ilmu pengetahuan biologi dan ilmu pengetahuan ekologi
  2. Silvikultur selalu berkaitan dengan sosial ekonomi dan administrasi
  3. Konflik ekologi, ekonomi, dan administrasi harus dapat diselesaikan
  4. Harus dapat menganalisis tegakan pohon dan keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitar
  5. Silvikultur harus baik dan bersifat menguntungkan


Kedudukan Silvikultur

Kedudukan silvikultur dapat dilihat dari:
  1. Silvikultur itu seperti agronomi di pertanian
  2. Silvikultur berkaitan dengan silvika, fisiologi, perlindungan hutan, dan ilmu tanah
  3. Untuk membuktikan kebenaran formal dan ide ide baru di lapangan
  4. Bekerja sama dengan faktor iklim dan tanah
  5. Silvikultur dengan metode yang tepat dalam kegiatan pengelolaan (azas pelestariaan)
  6. Pihak manajemen akan mendapatkan keuntungan dari investasinya dalam menggunakan silvikultur
  7. Dapat memilih dan menentukan pilihan dalam penerapan teknologi silvikultur


Tujuan Silvikultur

Tujuan silvikultur terdapat bermacam macam, berikut tujuan dari silvikultur itu sendiri, yakni:
  1. Menentukan pilihan teknologi, dimana bisa hingga merombak hutan itu sendiri. Dimana berguna untuk mendapatkan bahan baku kayu (pulp, plywood, kayu, dll)
  2. Sebagai kawasan perlindungan sumber daya alam hayati atau sebagai sistem tata air. Dimana sedikit sekali tindakan pengelolaan dalam kawasan tersebut, sehingga hanya dengan cara membiarkannya secara alamiah. Tetapi juga diperlukan tindakan silvikultur jika terjadi bencana alam
  3. Sebagai pembangunan dan pemeliharaan hutan dan menghasilkan produk barang yang berupa kayu dan non kayu, barang dan jasa
  4. Mengatur struktur tegakan pohon
  5. Mengubah sebagian ekosistem menjadi ekosistem yang baru, sebagiannya dibiarkan alami
  6. Untuk pemanenan hasil hutan, pemandangan yang menarik dan bagus, untuk wisata alam, mengontrol populasi hama, dan perlindungan air
  7. Mengontrol komposisi jenis dari aspek ekonomi ekologi, contohnya Tegakan hutan yang dikelola memiliki jenis yang sedikit ataupun jenis yang berlebihan; jenis yang berharga maupun eksotik dapat ditingkatkan jumlahnya
  8. Mengatur kerapatan tegakan yang dipengaruhi oleh diameter ataupun tinggi; Jika tegakan rapat, maka diameter kecil dan melambat, memacu pertumbuhan, tinggi batang bebas cabang (TBBC) tinggi, dan mengalami prunning alami; Jika tinggi batang bebas cabang (TBBC) rendah atau tegakan jarang, maka diameter besar, sehingga dilakukan penjarangan, begitupula sebaliknya
  9. Pengendalian pertumbuhan suatu tanaman, tergantung dari keadaan ruang tumbuh, dapat dengan cara memberikan ruang tumbuh, yang optimal bagi tanaman pokok
  10. Pengendalian rotasi, dimulai dari penanaman, lanjut ke pemeliharaan, terus penjarangan, lalu panen dan dimulai lagi dari pemanenan, dan seterusnya
  11. Proteksi hama dan penyakit, dengan cara salvage cutting (tebang penyelamatan)
  12. Pelestarian ekosistem, tanah, terbentuknya lahan hutan, dan daur hara

Thursday, November 16, 2017

Ekofisologi : Pengertian, Proses, dan Contoh (Fotosintesis, Respirasi, Transpirasi)

Ekofisologi : Pengertian, Proses, dan Contoh (Fotosintesis, Respirasi, Transpirasi)

Ekofisologi

Pengetian Ekofisiologi

Ekofisiologi adalah ilmu tentang respon fisiologis tumbuhan terhadap lingkungannya (ekologi). Tujuan dari ekofisiologi adalah berguna untuk pengontrolan pertumbuhan, reproduksi, kemampuan bertahan hidup dari tumbuhan tersebut, dan penyebaran geografinya.
Dalam ekofisiologi, terdapat 3 (tiga) pilar utama, dimana Semua pilar utama ini saling berinteraksi, yakni :

  1. Tanah (Edafik)
  2. Tumbuhan (Biotik)
  3. Lingkungan (Abiotik)


Proses Fisiologi

Proses fisiologi terdiri dari berbagai macam, yakni:

Fotosintesis

Proses Ekofisologi contohnya Fotosintesis

Fotosintesis memiliki faktor faktor seperti : klorofil, stomata, daun, karbohidrat, cahaya, suhu, CO2, pohon, air, dan unsur hara.
Fotosintesis terdapat beberapa jenis, yakni : C3 (contohnya tanaman kehutanan) dan C4 (contohnya tanaman pertanian).

Metabolisme Nitrogen

Metabolisme nitrogen adalah proses mengubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik (contohnya protein dan protoplasma).

Respirasi

Respirasi memiliki beberapa faktor faktor, yakni : umur dari fisiologi jaringan, substrat, ransangan adanya luka, zat kimia tertentu, cahaya, air tanah, suhu, CO2 dan O2, dan nutrisi
Aktivitas dari respirasi yakni : dari kambium menuju ujung akar, lalu kebatang, dan selanjutnya ke dorman (proses dari yang tertinggi).

Transpirasi

Transpirasi adalah proses air menguap pada siang hari melalui stomata, kultikula, lentisel, yang berguna untuk menurunkan suhu permukaan tanaman tersebut.

Gutasi

Gutasi adalah proses keluarnya air garam gula cair pada malam hari yang melalui stomata dan hydatoda.

Asimilasi

Asimilasi adalah proses perubahan makanan menjadi protoplasma baru, dinding sel, dan bahan bahan lainnya.

Penimbunan Garam

Penimbunan garam adalah proses pengumpulan garam di sel sel jaringan yang disebabkan mekanisme transport aktif.

Pengangkutan

Pengangkutan adalah proses perpindahan air mineral, makanan, dan hormon hormon dari tempat satu ke tempat satu lainnya.

Penyerapan

Penyerapan adalah proses menyerap air mineral dari tanah dan menyerap O2 dan CO2 dari udara.

Reproduksi Vegetatif

Reproduksi vegetatif adalah reproduksi dengan menggunakan bagian vegetatif.

Hormon

Hormon adalah pengontrolan seluruh daur hidup tumbuhan tersebut (contohnya perkecambahan, pembungaan, dll.).

Tumbuhan bedasarkan Transpirasi dalam Ekofisiologi

Tumbuhan bedasarkan transpirasi dalam ekofisiologi dibagi dalam beberapa macam, yakni:

Kuat

Kuat dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar 2000mm per tahun. Contohnya adalah sengon, lamtoro, bambu, trembesi, otok otok. Dimana contoh tipe vegetasinya berupa belukar.

Sedang

Sedang dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar 1000 hingga 2000mm per tahun. Contohnya jati, karet, alang alang, nangka, kopi. Dimana contoh tipe vegatasinya berupa hutan dataran rendah dengan transpirasi sebesar 1200mm per tahun.

Kecil

Kecil dimana tanaman melakukan transpirasi sebesar kurang dari 1000mm per tahun. Contohnya teh, kelapa, beringin, damar, cemara udang. Dimana contoh tipe vegetasinya berupa hutan pegunungan dengan transpirasi sebesar 860mm per tahun.

Kondisi Fisiologi

Kondisi fisiologi terdiri atas:

  1. Jumlah klorofil, karbohidrat, dan senyawa nitrogen
  2. Tekanan osmosis
  3. Turgiditas sel
  4. Protoplasma


Contoh Ekofisiologi

Contoh contoh ekofisiologi terdapat:

  • Skarifikasi : proses ekologinya berupa perlakuan khemis, fisik, dan mekanis; sementara proses fisiologinya berupa dormansi balik
  • Pemupukan : proses ekologinya berupa nutrisi hara; sementara proses fisiologinya berupa translokasi

Tuesday, November 14, 2017

Suksesi : Pengertian, Jenis, Proses, dan Manfaat (Primer dan Sekunder)

Suksesi : Pengertian, Jenis, Proses, dan Manfaat (Primer dan Sekunder)

Suksesi
diambil dari : irwantoforester.wordpress.com

Pengertian Suksesi

Suksesi adalah proses yang diawali dari perubahan akibat dari modifikasi lingkungan dari waktu ke waktu. Saat suksesi sudah mencapai kondisi seimbangnya, maka suksesi tersebut dalam kondisi yang seimbang atau disebut dengan kondisi klimaks.

Macam / Jenis Suksesi

Macam macam atau jenis jenis suksesi terdiri atas:

Suksesi Primer

Suksesi Primer

Suksesi primer adalah suksesi yang dari awal komunitas asal atau awal terganggu penuh, sehingga komunitas dari ekosistem yang lama musnah atau punah.

Suksesi Sekunder

Suksesi sekunder adalah suksesi yang bila dari awal komunitas tidak terusik atau tidak rusak penuh, sehingga komunitas dari ekosistem yang lama masih ada.

Proses Suksesi

Proses suksesi terdiri atas 6 (enam) proses, yakni:

  1. Nudasi : terbukanya substrat; tidak ada apa apa; gundul dan kosong
  2. Migrasi : mulai muculnya biji atau alat perkecambahan lainnya yang datang
  3. Execis : biji atau perkecambahan tersebut yang menetap mulai berkecambah, lalu tumbuh, dan mulai berreproduksi
  4. Kompetisi : biji atau perkecambahan tersebut terjadi kompetisi, yang kuat akan menggantikan spesies yang lama, yang lama mati atau akan mati
  5. Reaksi : perubahan dari tempat tersebut dengan munculnya habitat habitat baru yang dikarenakan hadirnya spesies dari awal
  6. Stabilitas akhir / Klimaks : setelah lengkap, maka sudah terbentuknya suatu ekosistem yang kompleks

Adapun proses suksesi yang lainnya, terdapat 2 (dua) macam, yakni:

  • Hydrosere

Hydrosere (hydro artinya air) dimulai dari air, lalu munculnya tumbuhan air, lalu tumbuhan airnya mengapung, lalu tempat tersebut menjadi payau, lalu muncul rerumputan, hingga semak belukar, dan akhirnya menjadi klimaks

  • Xerosere
Xerosere

Xerosere (xero artinya batu) dimulai dari batu, lalu mulai muncul lumut kerak, hingga lumut kerak tersebut mulai berdaun, lalu muncul jenis algae, lalu muncul tanaman herba, hingga muncul semak dan perdu, dan akhirnya menjadi klimaks

Manfaat Suksesi

Manfaat dari suksesi, dengan proses silvikultur, yakni:
Sebagai Reklamasi Lahan Bekas Tambang

  • Reklamasi lahan bekas tambang
  • Rehabilitasi lahan kritis
  • Rehabilitasi kawasan bekas longsor, dll


Suksesi dan Rehabilitasi

Suksesi dan rehabilitasi memiliki kesamaan, yakni :

  1. Sebagai safe site, contohnya : tumbuhan pionir (tumbuhan yang selalu muncul pada daerah tidak subur atau marginal (marjinal)), adanya pembelukaran, penyimpanan biomassa, dan pembentukan tanah
  2. Sebagai sarana mempercepat suksesi, tapi dari proses mempercepat suksesi ini memerlukan biaya yang besar
  3. Silvikultur rehabilitasi, berlawanan dengna silvikultur produksi
  4. Konservasi ekosistem dengan konservasi sumber daya guna


Tuesday, November 7, 2017

Perakaran (Akar) Pohon : Fungsi, Karakteristik, dan Sistem (Tunjang, Serabut, Gantung)

Perakaran (Akar) Pohon : Fungsi, Karakteristik, dan Sistem (Tunjang, Serabut, Gantung)

Perakaran (Akar) Pohon

Fungsi Perakaran Pohon

Fungsi dari akar pohon yakni:

  1. Tempat untuk mengambil air dan unsur hara
  2. Tempat unutk berjangkarnya pohon agar pohon tersebut tetap berdiri
  3. Sebagai tempat penyimpanan makanan
Biasanya fungsi dari perakaran pohon ini tergantung dari karakteristik lingkungannya, bentuk tanah, dan sifat pohon itu sendiri

Karakteristik Perakaran Pohon

Karakteristik perakaran pohon terdiri dari:

  1. Perakaran pohon memiliki bervariasi yang besar diantara akar per individu sendiri
  2. Kesehatan dan vigoristas dari akar akan mempengaruhi pohon tersebut
  3. Karakteristik dari akar dan tajuk seimbang atau sama


Sistem Perakaran Pohon

Sistem perakaran pohon terdapat tiga macam, yakni:

Akar Tunjang

Akar tunjang memiliki ciri ciri : besar dan gemuk; masuk ke dalam tanah yang berguna unutk mencari makanan atau unsur hara; akar tersebut dapat menyimpan makanan selama masa dormansi; dan hanya dimiliki tanaman dikotil

Akar Serabut

Akar serabut memiliki ciri ciri : dekat dengan permukaan tanah; biasanya berdampingan dengan akar tunjang; dan hanya dimiliki tanaman monokotil

Akar Gantung (Memanjat)

Akar gantung (memanjat) memiliki ciri ciri : hanya dimiliki tumbuhan menjalar; dapat berupa tanaman dikotil ataupun monokotil

Area perakaran sendiri biasanya disesuaikan dengan : ukuran tajuk; kualitas tempat tumbuh; dan keraptan tegakan

Akar Lateral

Akar lateral memiliki ciri ciri : semakin membesar bila pada tempat tumbuh jelek dan atau kering; biasanya berukuran 2 hingga 5 kali dari ukuran tajuk pohon


Kedalaman Perakaran Pohon


  • Kedalam perakaran pohon dipengaruhi oleh faktor genetik, biasanya ada yang bersifat dangkal atau akar tunjang yang dalam
  • Biasanya, dalam kedalaman perakaran pohon, biji yang berukuran besar dan kaya akan simpanan makanan memiliki akar tanjung yang panjang dan berkembang dengan cepat ke dalam tanah
  • Saat masa juvenile (masa permudaan), perkembangan akar yang cepat, biasanya ditandai dengan pertumbuhan pucuk yang lambat


Distribusi dan Biomassa Perakaran Pohon


  • Distribusi dan biomassa perakran pohon dintentukan oleh berbagai jenis, seperti: jenis pohon, umur pohon, lingkungan sekitar pohon, dan unit ukuran pohon
  • Perakaran halus biasanya berdekatan dengan tanah karena banyak mengandung humus dan unsur hara


Kecepatan dan Periodisitas Perakaran Pohon

Kecepatan dan periodisitas terdiri dari 2 macam, yakni:

  1. Epigeal, yakni kotiledon yang terangkat ke atas permukaan tanah
  2. Hipogeal, yakni kotiledon yang tidak terangkat ke atas permukaan tanah

Biasanya akar primer lebih cepat saat perkecambahan, lalu setelahnya, melambat dan dilanjutkan akar lateral


Faktor Lingkungan Perakaran Pohon

Faktor lingkungan perakaran pohon terdiri atas:

Suhu

Suhu sangat mempengaruhi perakaran pohon, bila suhu yang rendah ataupun suhu yang tinggi, maka akar tidak berukuran maksimum; bila suhu tersebut optimal, maka akar akan berukuran maksimum

Oksigen

Oksigen mempengaruhi perakaran pohon, biasanya tingkat aerasi tanah sangat penting bagi akar pohon, supaya akar dapat bernafas secara anaerob yang maksimal

Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah juga memepengaruhi perakaran pohon, bila semakin subur suatu tanah, maka perakaran akan semakin besar dan penetrasi akar tinggi; bila semakin tidak subur suatu tanah, maka perakaran akan semakin tidak besar dan penetrasi akar tidak tinggi

Contoh Penggolongan Jenis Pohon bedasarkan Perakaranya


  • Akar tanjung dan akar cabang banyak, contohnya berupa sengon laut, lamtoro, johor, mindi, dll
  • Akar tanjung dalam dan akar cabang sedikit, contohnya berupa asam, tengguli, angsana, sonokeling, dll

Saturday, November 4, 2017

Toleransi Pohon : Klasifikasi, Ciri-Ciri, dan Penentuan Jenis (Toleran, Intoleran, dan Semi Toleran)

Toleransi Pohon : Klasifikasi, Ciri-Ciri, dan Penentuan Jenis (Toleran, Intoleran, dan Semi Toleran)

Toleransi Pohon


Klasifikasi Toleransi Pohon

Toleransi pohon adalah kemampuan tumbuhan (pohon) untuk hidup dibawah naungan atau seberapa besar tumbuhan (pohon) tersebut membutuhkan cahaya untuk tumbuh. Toleransi pohon ini terdapat beberapa klasifikasi jenisnya, yakni:

Pohon Toleran

Pohon toleran adalah pohon yang membentuk tajuk dibawah pohon lain atau sejenis (induk dengan anak). Contoh dari pohon toleran adalah : kesambi, eboni, agathis, shorea, dll

Pohon Intoleran

Pohon intoleran adalah pohon yang tumbuh baik saat pada tempat yang terbuka (tidak ternaungi) atau kanopi yang terbuka lebar. Contoh dari pohon intoleran adalah : kayu putih, balsa, jati, pinus, sungkai, jabon, sengon, cemara, dll

Pohon Semi-Toleran

Pohon semi-toleran adalah pohon yang saat awal pertumbuhan, membutuhkan naungan,setalah saat dewasa, pohon tersebut membutuhkan cahaya. Contoh dari pohon semi-toleran adalah : bungur, sonokeling, rasamala, ulin, jenis pohon famili dipterocarpaceae, dll

Biasanya dari klasifikasi toleransi pohon tersebut, pohon memiliki sifat toleransi, biasanya dipengaruhi oleh :

  1. Umur, semakin tua, pohon biasanya semakin intoleran
  2. Kekeringan, semakin daerahnya kering, pohon biasanya semakin intoleran
  3. Kesuburan, semakin daerahnya subur, pohon biasanya semakin toleran; dan
  4. Derajat Lintang, semakin jauh dari lintang, pohon biasanya semakin intoleran


Ciri Ciri Toleransi Pohon



  • Pohon toleran dapat mempermuda diri dan membentuk tegakan dibawah tajuk pohon lain atau sejenis. Sementara pohon intoleran hanya mempermuda diri saat tumbuh ditempat terang atau tajuknya terbuka lebar
  • Pohon toleran kuat bertahan tumbuh meskipun lambat, jika terdapat cahaya, dapat tumbuh baik. Sementara pohon intoleran akan cepat mati bila dibawah naungan
  • Pohon toleran mempunyai lapisan tajuk yang tebal. Sementara pohon intoleran mempunyai lapisan tajuk yang tipis
  • Proses pembersihan cabang (pruning) lambat pada pohon toleran dikarenakan tinggi batang bebas cabang (TBBC) rendah atau pendek. Sementara proses pembersihan cabang (pruning) cepat pada pohon intoleran dikarenakan tinggi batang bebas cabang (TBBC) tinggi atau panjang
  • Pohon toleran cenderung memiliki bentuk batang kerucut. Sementara pohon intoleran cenderung memiliki bentuk batang silindris dengan banyak cabang (dalam kondisi kerapatan tegakan sama)
  • Pohon toleran memiliki jumlah cabang lebih banyak. Sementara poho intoleran memiliki jumlah cabang lebih sedikit (dalam kondisi umur dan kualitas tempat tumbuh sama)
  • Pohon toleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya lambat. Sementara pohon intoleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya cepat

Penentuan Toleransi Pohon



Dalam menentukan toleransi pohon kedalam beberapa klasifikasi toleransi pohon, terdapat kriteria yang harus diperhatikan terlebih dahulu, seperti :

  1. Kerapatan tajuk, banyaknya daun yang bertahan pada suatu tajuk
  2. Cahaya minimum, biasanya membutuhkan fotometer portabel
  3. Pemangkasan alami, adalah kecepatan batang membersihkan diri dari cabang
  4. Order cabang, pohon intoleran lebih sedikit daripada pohon toleran
  5. Kecepatan tanaman muda, Pohon toleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya lambat. Sementara pohon intoleran saat masa muda (juvenile) pertumbuhannya cepat
  6. Keadaan permudaaan, dapat dilihat dari tanaman dibawah naungan
  7. Struktur daun, pohon intoleran memiliki daun yang lebih tebal. Sementara pohon toleran memiliki daun lebih tipis
  8. Penjarangan alami, semakin toleran, semakin mendominasi
  9. Pembebasan, pohon toleran lebih bertahan dibandingkan pohon intoleran (karena sudah mati)
  10. Kerapatan batang, pohon toleran lebih rapat dibandingkan pohon intoleran
  11. Peruncingan batang, Pohon toleran cenderung memiliki bentuk batang kerucut. Sementara pohon intoleran cenderung memiliki bentuk batang silindris dengan banyak cabang (dalam kondisi kerapatan tegakan sama)


Saturday, October 28, 2017

Intekasi Antar Flora dan Fauna di Hutan : Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme, Saprofit

Intekasi Antar Flora dan Fauna di Hutan : Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme, Saprofit


Interaksi dalam masyarakat hutan biasanya terdiri atas sesama flora dan atau fauna seperti: semak, perdu, rumput, lumut, mamalia, burung, serangga, mikro fauna, mikro fauna dan flora dan fauna lainnya. Contoh dari interaksi terseut adalah:
  1. Cendana, bijinya dimakan burung, keluar saat feses guna permudaan
  2. Daun muda jati dimakan ulat jati
  3. Tanaman tertentu yang tumbuh bila ada serangga tertentu, dll.

Berikut interaksi yang lainnya yang terjadi dalam masyarakat hutan :

Persaingan

Persaingan ini biasanya berupa perebutan unsur hara, cahaya, air, maupun ruang tumbuh. Persaingan ini membuat terbentuknya susunan masyarakat hutan, sesuai ruang tumbuh flora ataupun fauna. Persaingan ini dapat menyebabkan terjadinya seleksi alam

Tolong Menolong

Contoh dari tolong menoloong ini adalah:
  • Mikroorganisme merombak dari tumbuhan dan binatang yang telah mati
  • Tumbuhan saling membantu saat melawan angin dan hujan lebat
  • Pohon yang menutupi tanah, sehingga mencegah pertumbuhan tanaman yang merugikan


Komensalisme

Komensalisme merupakan interaksi tanpa meminta makanan, tetapi hanya menumpang tempat

Epifitisme

Epifitisme merupakan interaksi dengan menumpang tempat, biasanya tanaman yang menumpang mendapatkan air dari hujan saja. Epifit ini dapat menutu jumlah cahaya yang masuk dan merusak kulit pohon jika banyak
  • Contoh dari epifitisme adalah : paku, anggrek, bakteri, lumut


Liana

Liana merupakan tumbuhan berakar dan bersandar di tumbuhan lain
  • Contoh dari liana adalah rotan


Parasitisme

Parasitisme merupakan interaksi yang merugikan dengan cara meminta makanan dan air dari tumbuhan lin
  • Contoh dari parasitisme adalah: jamur miselia, serangga dan hama, bakter, bluestain pada ramin
  • Parasitisme ini adapula yang tumbuhan tinggi tapi berparasit
  • Adapula yang bersifat semi parasit, seperti cendana


Mutualisme

Mutualisme adalah interaksi yang saling menguntungkan
Contoh dari interaksi mutualisme ini adalah:
  • Bintil akar pada tanaman legum (Rhizobium mengikat nitrogen)
  • Lichenes (jamur) dengan alga
  • Mikorisa (jamur) dengan akar (mendapatkan fosfor dan anti patogen)


Saprofit

Saprofit adalah interaksi dengan hidup dari seresah organik dari jasad tak berklorofil
  • Contoh dari saprofit adalah : bakteri, jamur tak berparasitisme


Pencekik


Pencekik adalah tanaman yang dulunya berasal dari epifit, setelah akar mencapai tanah, lalu mencekik inangnya
  • Contoh dari pencekik ini adalah : tanaman ficus


Alelopati

Alelopati adalah zat yang berguna untuk menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya
Contoh dari alelopati adalah : tanaman eucalyptus, mahoni
Adapula yang jenis lainnya adalah
  • Yolatilasi, adalah melepaskan alelopati dalam bentuk gas
  • Eksudasi, adalah melepaskan alelopati dalam bentuk akar

Monday, October 23, 2017

Klasifikasi dan Siklus Pohon : Bentuk Tajuk Pohon, Jenis Pohon, dan Lapisan Hutan

Klasifikasi dan Siklus Pohon : Bentuk Tajuk Pohon, Jenis Pohon, dan Lapisan Hutan


Siklus Pohon


  • Siklus pohon dimulai dari tumbuh, menjadi dewasa, lalu bergenerasi, lalu menua, hingga akhirnya mati
  • Pohon bisa mati (alami) dikarenakan bersaing dengan yang lain, dimana dalam hal ini adalah bersaing cahay dan unsur hara


Bentuk Tajuk Pohon

Bentuk tajuk pohon ada bermacam-macam, seperti:

  1. Kerucut
  2. Bulat
  3. Silinder
  4. Payung
  5. Pagoda


Tingkat Hidup Pohon

Tingkat hidup pohon dimulai dari yang kecil hingga besar, yakni

  1. Semai : berukuran 0 – 150 cm
  2. Sapihan : berukuran 150 – 300 cm dengan diameter (dbh) kurang dari 10 cm
  3. Tiang : berukuran 150 – 300 cm dengan diameter (dbh) 10 – 20 cm
  4. Pohon : berukuran 150 – 300 cm dengan diameter (dbh) lebih dari 20 cm


Jenis Kedudukan Pohon

Kedudukan pohon terdapat

  • Pohon dominan : dimana pohon dominan berada di lapisan teratas, biasanya pohonnya besar, dan mendapatkan cahaya matahari penuh
  • Pohon kodominan : pohon kodominan ini biasanya tidak setinggi pohon dominan tetapi masih mendapatkan cahaya matahari penuh
  • Pohon tengah : pohon tengah berada di bawah pohon dominan dan pohon kodominan
  • Pohon tertekan : pohon tertekan ini tajuk diatasnya telah tertupi, sehingga tidak mendapatkan cahaya matahari penuh, dan pohon ini tumbuhnya lambat
  • Pohon mati : pohon mati merupakan pohon yang sedang mati atau pohon yang proses akan mati atau pohon yang sudah mati


Jenis Bagian Pohon

Bagian pohon ada macam – macamnya, dari atas hingga bawah, yakni

  1. Tegakan Atas
  2. Kanopi
  3. Tegakan Bawah
  4. Penutup Tanah
  5. Lantai Hutan

Lapisan Hutan


Dalam bagian hutan, terdapat lapisan pohon, seperti

  1. Lapisan Emergent : lapisan emergent merupakan lapisan paling tertinggi atau paling atas dan selalu memayungi pohon dibawahnya
  2. Lapisan Kanopi : lapisan kanopi merupakan langit – langit atap dari hutan, lapisan kanopi melindungi pohon yang ada dibawahnya dari hujan, dan lapisan kanopi ini menahan cahaya matahari untuk pohon yang dibawahnya
  3. Lapisasn Bawah : biasanya lapisan bawah ini berhenti tumbuh atau tumbuhnya lambat, akan tumbuh cepat bila terjadi rumpang (gap) karena masuknya cahaya matahari ke lapisan bawah
  4. Lapisan Semak : lapisan semak ini terdiri dari tumbuhan paku – pakuan atau jenis – jenis semak
  5. Lapisan Lantai Hutan : lapisan lantai hutan ini bisanya sangat gelap, dikarenakan masuknya cahaya matahari hanya bekisar 2%, lapisan ini biasanya tertutupi oleh sampah – sampah pohon


Saturday, October 14, 2017

Ciri-Ciri dan Klasifikasi Hutan : Tempat Asal, Keaslian, Komposisi, Umur, dan Seluruh Dunia

Ciri-Ciri dan Klasifikasi Hutan : Tempat Asal, Keaslian, Komposisi, Umur, dan Seluruh Dunia

Ciri Ciri dan Klasifikasi Hutan


Tempat Asal

Bedasarkan tempat asalnya, hutan dibagi menjadi :

High Forest

High forest merupakan hutan yang berasal dari pembiakan biji

Coppice Forest

Coppice forest merupakan hutan yang berasal dari trubusan atau perkembangan vegetatif

Middle Forest

Middle forest merupakan hutan yang berasal dari kombinasi keduanya (High forest dan Coppice forest)

Keaslian Hutan

Bedasarkan keaslian hutan, hutan dibagi menjadi:

Hutan Primer

Memiliki ciri ciri pohon yang besar, berumur tua, dan tegakan yang rapat

Hutan Sekunder

Memiliki ciri ciri pohon yang muda dan tegakan yang kecil dan muda ; kadang terjadi bencana alam

Komposisi Hutan


Bedasarkan komposisi hutan, hutan dibagi menjadi:

Hutan Sejenis / Murni / Monokultur

Memiliki ciri ciri iklim yang sebegitu rupa, kadang terjadi bencana, spesies yang agresif, dan bersifat buatan
Keuntungannya berupa:

  1. Memiliki spesies paling berharga
  2. Pengelolaan lebih sederhana
  3. Permudaan lebih mudah
  4. Biaya pemungutan rendah

Kekurangannya berupa:

  1. Kurangnya dalam mengantisipasi perubahan pasar
  2. Kurangnya nilai estetis dan serbaguna

Hutan Campur

Memiliki ciri ciri banyak spesiesnya
Keuntunganya berupa:

  1. Ketahanan dalam gangguan angin
  2. Siklus hara
  3. Iklim mikro
  4. Pemanfaatan ruang tajuk
  5. Lebih sehat

Perbedaan antara kedua tipe hutan tersebut adalah :

  1. Pemanfaatan ruang
  2. Kebutuhan unsur hara
  3. Pembentukan tanah
  4. Hama dan penyakit
  5. Angin
  6. Kebakaran hutan


Umur Hutan

Bedasarkan umur hutan, hutan dibagi menjadi:

Hutan Seumur

Memiliki ciri ciri kanopi datar, bahaya angin besar, pohon kecil tertekan, regenerasi pendek, hama dan penyakit banyak, akumulasi tebangan banyak

Hutan Tidak Seumur

Memiliki ciri ciri kanopi beragam, bahaya angin kecil, pohon kecil berguna, regenerasi cepat, hama dan penyakit sedikit, akumulasi tebangan sedikit
Adapun tipe bedasarkan umur hutan yang lain yakni:

  • Hutan alam klimaks
  • Hutan tanaman
  • Hutan permudaan alam
  • Hutan bertingkat
  • Hutan tak teratur
  • Hutan seumur berkelompok
  • Hutan bentuk cadangan


Seluruh Dunia


Bedasarkan hutan di seluruh dunia, hutan dibagi menjadi:

Tropika

Terdiri atas : hutan ber humida, gugur daun, musim, sabana

Sub-tropika

Temperate

Terdiri atas : hutan sedang, dingin

Kutub

Terdiri atas : hutan boreal, sub kutub, dan kutub

Tuesday, October 3, 2017

Pemicu, Dampak, dan Cara Mengontrol (Pencegahan dan Penanggulangan) Kebakaran Hutan

Pemicu, Dampak, dan Cara Mengontrol (Pencegahan dan Penanggulangan) Kebakaran Hutan


Syarat / Pemicu Kebakaran Hutan


  1. Adanya kebakaran liar, kebakaran api yang tidak terkendali
  2. Para pembakar yang tidak sah dan disengaja
  3. Puing-puing sampah yang terbakar
  4. Kelembaban udara, jumlah uap air di udara
  5. Peralatan / instrumen yang digunakan untuk memulai kebakaran
  6. Kecepatan angin
  7. Bahan bakar Berat, seperti kayu bulat dan dahan besar
  8. Bahan bakar Sedang, seperti tungkai & ranting besar
  9. Bahan bakar Ringan, seperti rumput, daun, tungkai kecil & ranting
  10. Sampah organik dalam berbagai tahap dekomposisi di atas tanah
  11. Adanya pemicu, untuk membakar
  12. Musim Kebakaran / Periode Tahun dimana kebakaran cenderung terjadi


Dampak Kebakaran Hutan


  1. Menghancurkan atau mengurangi nilai tegakan kayu
  2. Menghancurkan bibit muda
  3. Mengurangi tingkat pertumbuhan
  4. Menghancurkan sifat tanah (Biologis, Kimia, sifat fisik)
  5. Mengurangi kapasitas penahan air dari daerah aliran sungai & menyebabkan erosi
  6. Polusi Udara dan air
  7. Membunuh atau melukai satwa liar serta habitatnya
  8. Dapat mempengaruhi perekonomian lokal & negara


Kondisi Cuaca yang Mengurangi Laju Penyebaran Kebakaran


  1. Hujan di atas api
  2. Pembalikan angin (arah angin yang tenang)
  3. Peningkatkan kelembaban udara


Cara Mengontrol Kebakaran Hutan


Pencegahan

Metode pengendalian yang paling efektif & paling murah, tindakan pencegahan meliputi:

  1. Bersihkan semua bahan bakar beberapa meter dari tempat sampah, kamp, atau penginapan
  2. Jangan pernah meninggalkan api tanpa dijaga
  3. Memiliki alat dan metode penanggulangan yang tersedia
  4. Matikan api kecil
  5. Hindari membakar saat udara kering, hari berangin atau saat kelembapan rendah
  6. Peralatan pemadam kebakaran dalam kondisi aman
  7. Memadamkan semua korek api & asap sebelum dibuang
  8. Gunakan api yang ditentukan / ditakar untuk mengurangi atau menghilangkan bahan bakar


Sebelum Penanggulangan


  1. Persiapan yang dilakukan sebelum api mulai lebih efektif mengendalikannya, metodenya berupa:
  2. Kenali properti dan cara terbaik untuk mendapatkan peralatan pemadam ke setiap area dalam segala kondisi
  3. Kenali tetangga Anda dan mintalah mereka untuk melaporkan Anda tentang asap yang tidak biasa di wilayah Anda
  4. Jagalah peralatan pemadam kebakaran Anda di tempat yang berguna dan diketahui
  5. Tahu cara menghubungi polisi


Penanggulangan

Tindakan yang diperlukan untuk memadamkan api setelah membesar tak terkendali, dengan cara:

  1. Langsung : Memadamkan api di pucuk api. Digunakan saat nyala api tidak terlalu besar & api bergerak perlahan.
  2. Tidak langsung : Digunakan dimana panas & laju penyebaran tidak akan mengizinkan serangan langsung
  3. Patroli : Inspeksi berkala dilakukan di atas area sampai api mati

Sunday, October 1, 2017

Potensi Hasil Hutan Non Kayu Indonesia : Rotan, Sagu, Nipah, Biji Kesambi, dan Biji Kepuh

Potensi Hasil Hutan Non Kayu Indonesia : Rotan, Sagu, Nipah, Biji Kesambi, dan Biji Kepuh


Contoh Hasil Hutan Non Kayu

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki hutan terluas di dunia. Data statistik tahun 1993 mencatat luas hutan Indonesia sekitar 141,8 juta hektar. Data lainnya menyebutkan luas hutan Indonesia menempati urutan ke – 9 terluas di dunia setelah Australia dan Argentina dengan luasan 884.950 Km2.

Keanekaragaman hayati yang di kandung oleh hutan Indonesia sangatlah melimpah. Dari hasil survei IBSAP ( Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) pada tahun 2003 diketahui bahwa di Indonesia terdapat 515 jenis mamalia (36% endemik, peringkat pertama dunia), 35 jenis primate (25% endemik), 511 jenis reptil, 1.531 jenis burung (sebagian jenis endemik), 270 jenis amfibi, dan 212 jenis kupu-kupu (44% endemik). Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia.

Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan Indonesia juga memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi, mulai dari potensi hutan yang bersifat kayu, maupun potensi hutan bukan kayu. Pada tahun 1997, sektor kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan ekspor kayu lapis, pulp dan kertas nilainya mencapai 5,5 miliar dolar untuk devisa negara. Jumlah ini nilainya hampir setengah dari nilai ekspor minyak dan gas, dan setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total. Melihat potensi hasil hutan bukan kayu, potensi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan mengingat keanekaragaman jenis tanaman hutan Indonesia yang sangat banyak manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak langsung (intangible).

Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), hasil hutan bukan kayu adalah hasil-hasil biologi selain kayu yang diperoleh dari hutan. Defenisi lainnya menyebutkan segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain.  Di Indonesia sampai saat ini budidaya tanaman HHBK belum banyak dilaksanakan, sebagian besar produk HHBK masih diambil dari dalam hutan sehingga produksi HHBK yang berkesinambungan tidak lagi terjamin. Akibatnya sumberdaya HHBK menjadi hancur bahkan beberapa jenis masuk kategori langka, seperti gaharu, damar rasak, jelutung, kapur barus, jermang, ketiau, balau dan lain-lain sudah masuk ke dalam daftar Appendix II CITES (Sumadiwangsa dan Mas’ud, 1999).

Sesuai dengan dengan Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan No. P.21/Menhut-II, 2009. jenis komoditi HHBK digolongkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu HHBK Nabati dan HHBK Hewani. HHBK Nabati meliputi kelompok resin (damar, gaharu, kemenyan, getah tusam), kelompok minyak atsiri (cendana, kulit manis, kayu putih, kenanga), kelompok minyak lemak, pati, dan buah – buahan (buah merah, rebung bambu, durian, kemiri, pala, vanili), kelompok tannin, bahan pewarna, dan getah (kayu kuning, jelutung, perca, pinang, gambir), kelompok tumbuhan obat – obatan dan tanaman hias (akar wangi, brotowali, anggrek hutan), kelompok palma dan bambu (rotan manau, rotan tahiti), kelompok alkaloid (kina), dan kelompok (nipah, pandan, purun). HHBK Hewani meliputi kelompok kelas hewan buru (babi hutan, kelinci, kancil, rusa, buaya), kelompok hewan hasil penangkaran (arwana, kupu – kupu, rusa, buaya), kelompok hasil hewan (sarang burung walet, kutu lak, lilin lebah, ulat sutera, lebah madu).

Hasil hutan bukan kayu sangat berpotensi sebagai komoditas kehutanan. Hasil hutan bukan kayu dapat menyelamatkan eksploitasi terhadap sektor kehutanan ketika potensi hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan dengan baik. Hasil hutan non kayu ini bisa dibilang sangat menguntungkan, karena dari satu jenis saja kita bisa memanfaatkan bagian bagian dari suatu jenis tumbuhan tersebut. Apakah daunya, akarnya, maupun buahnya. Penggunaannya juga bermacam-macam, mulai dari pemenuhan kebutuhan, sebagai barang-barang penghias bahkan sebagai obat-obatan. Berikut adalah beberapa contoh hasil hutan non kayu beserta potensi yang dimilikinya.

Rotan

Rotan

Luas kawasan hutan yang merupakan habitat alam rotan seluas 2.215.625 ha.  Di Indonesia terdapat kurang lebih 306 spesies rotan telah teridentifikasi dan menyebar di semua pulau di Indonesia. Dari keseluruhan yang teridentifikasi, rotan yang sudah ditemukan dan digunakan untuk keperluan lokal mencapai kurang lebih 128 jenis. Sementara itu rotan yang sudah umum diusahakan/ diperdagangkan dengan harga tinggi untuk berbagai keperluan baru mencapai 28 jenis saja (Baharuddin dan Taskirawati, 2009). Rotan dapat digunakan untuk membuat keranjang, tikar, mebel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat, penangkap ikan, perangkap binatang, tirai, kurungan burung, ikatan pada rumah, pagar, jembatan, perahu dan untuk hampir semua tujuan lain apapun yang menuntut kekuatan dan kelenturan yang digabungkan dengan keringanan.

Sagu

Sagu

Hutan sagu di Provinsi Papua luas sekitar 4.769.548 ha (diperkirakan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional 14.000 ha). Menurut Prof. Bintoro, untuk menghasilkan 30 juta ton beras per tahun diperlukan lahan seluas 12 juta hektare, sedangkan untuk menghasilkan 30 juta ton sagu hanya diperlukan lahan seluas satu juta hektar. Sebagaimana kita ketahui bahwa sagu dapat menggantikan peran beras untuk kebutuhan pokok manusia.

Nipah

Indonesia memiliki daerah tanaman nipah seluas 10% atau 700.000 ha dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha. Penyebarannya meliputi wilayah kepulauan Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Populasi tanaman nipah diperkirakan sekitar 8.000 pohon/ha, sehingga dari luas areal tanam yang ada sekarang terdapat 5,6 miliar pohon. Dari jumlah tanaman yang ada per hektar, jumlah malai (tangai bunga) yang dapat dihasilkan sekitar 10% atau sekitar 800 tangkai bunga. Jika pemeliharaan dan perawatannya intensif, persentase jumlah malai meningkat sekitar 40% atau sebanyak 3.200 tangkai bunga. Tanaman nipah menghasilkan nira yang diperoleh dari hasil sadapan tangkai bunga (malai). Komposisi nira nipah menagndung kadar gula (Brix) 15-17%, sukrosa 13-15%, gule pereduksi 0,2-0,5%, dan abu 0,3-0,7%.  Nira tersebut dapat diolah emnajdi gula, baik  dinuat sebagai gual merah, gual semut, gula pasir, maupun sirup. Di Malaysia dan Filipina nira nipah selain diolah  menjadi gula juga diolah menjadi vinegar, cuka dan alkohol.

Biji Kepuh (Sterculia foetida)

Tumbuhan Kepuh (Sterculia foetida) memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan biodiesel karena inti bijinya memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 40% (Heyne, 1987). Selain kandungan minyaknya yang cukup tinggi, minyak biji Kepuh juga tidak digunakan sebagai bahan konsumsi  seperti halnya minyak kedelai, minyak sawit dan minyak bunga matahari. Tanaman Kepuh juga mampu tumbuh dengan mudah  di lahan kritis dan termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat serta tersebar di seluruh Nusantara (Heyne, 1987).

Biji Kesambi (Schleichera oleosa Lour)

Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai biodiesel adalah dari biji kesambi (Schleichera oleosa Lour). Minyak biji kesambi mengandung beberapa jenis asam lemak dengan komposisi tertentu yang mirip dengan tanaman penghasil biodiesel lainnya. Asam lemak yang terdapat pada minyak kesambi yaitu asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam arakidat, asam oleat, dan asam linoleat.

Friday, September 29, 2017

Penggembalaan dalam Hutan dan Perlindungan dan Kesehatan Hutan : Pengelolaan, Dampak, dan Pengendalian

Penggembalaan dalam Hutan dan Perlindungan dan Kesehatan Hutan : Pengelolaan, Dampak, dan Pengendalian

Penggembalaan dalam Hutan

Pengertian Penggembalaan dan Unit Ternak


  • Penggembalaan ternak di hutan (potensial)
  • Pengertian unit ternak: kemampuan makan optimal sapi dewasa (2,5 tahun, berat 325 kg) (8 kg/hari)
  • Bahan ransum makanan ternak (HMT)


  1. Rumput gajah
  2. Tanaman Legum
  3. Campuran berbagai macam rumput
  4. Sisa-sisa hasil pertanian


Syarat-syarat HMT


  1. Jenis unggul
  2. Nilai gizi tinggi
  3. Disukai ternak
  4. Mampu berkembang biak secara vegetatif
  5. Tahan kering/basah
  6. Mampu menghasilkan biji yang banyak
  7. Teknik pengelolaan dan pemilihan jenis harus sesuai

Pengembangan Budidaya HMT:


  1. Silvopastur
  2. Tumpang sari


Faktor Penyebab Penggembalaan di Hutan


  1. Populasi ternak di kawasan hutan
  2. Jumlah HMT
  3. Cara memelihara ternak
  4. Pengawasan oleh pengelola hutan


Kerugian Disebabkan oleh Aktivitas Penggembalaan


  1. Tanah hutan 
  2. Tanaman muda
  3. Tanaman dewasa


Manfaat Penggembalaan


  1. Pemilik sapi : Penggarapan lahan dan Cadangan dana
  2. Pihak kehutanan : Persiapan penanaman dan Minim kebakaran hutan
Penggembalaan dalam Hutan



Pengendalian Penggembalaan


  1. Mencegah masuknya ternak ke hutan
  2. Pengaturan penggembalaan 
  3. Silvopasture 


Satwa Liar dalam Hutan


  1. Terjadi kerusakan kalau over population
  2. Kerusakan ditimbulkan oleh


  • Rusa
  • Bajing
  • Tikus
  • Babi hutan
  • Kelinci
  • Burung


Pengendalian Satwa Liar


  1. Mengatur tempat tumbuh tanaman
  2. Membuat perangkap/jerat
  3. Predator
  4. Perburuan
  5. Umpan beracun


Perlindungan Hutan dan Kesehatan Tegakan

Pengelolaan Kesehatan


  • Pemantauan dan penilaian masalah kesehatan yang potensial


  1. Perubahan habitat OPT
  2. Perubahan populasi OPT
  3. Perubahan musuh alami
  4. Masalah OPT di dekat hutan



  • Pemeliharaan vigor dan kesehatan hutan


  1. Pemilihan jenis yang beresiko rendah
  2. Pengelolaan tegakan yang baik
  3. Pengendalian kerusakan



  • Mencegah gangguan riap


  1. Menjaga pohon tumbuh baik
  2. Permudaan tepat waktu


Pengelolaan Kesehatan Terpadu


  • Strategi


  1. Meningkatkan ketahanan individual
  2. Meningkatkan ketahanan tegakan


  • Faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan hutam 


  1. Kompetisi 
  2. Faktor biotik
  3. Faktor abiotik



  • Pemilihan spesies dan keragaman genetik


  1. Penentuan jenis sesuai dengan kondisi tempat tumbuh
  2. Identifikasi OPT
  3. Menentukan cara-cara pengendalian
  4. Menghilangkan jenis yang rentan dan memilih jenis yang tahan


Resiko Akibat Penebangan Selektif


  1. Merusak tajuk pohon
  2. Mematahkan pohon kecil
  3. Banyak luka pada tegakan tinggal


Cara Mencegah Kerusakan


  1. Penjadwalan waktu tebang
  2. Waktu penyaradan
  3. Tidak menggunakan alat berat
  4. Merancang jalan sarad
  5. Sosialisasi cara penebangan yang benar
  6. Arah rebah yang benar